Cara Memilih Benih Karet yang Baik


Tanaman karet (hevea brasilliensis) adalah merupakan tanaman tahunan. Satu siklus tanam yang dihitung dari saat penanaman di lapangan sampai dengan peremajaan memakan waktu 25 tahun. Hal ini berarti pemilihan bahan tanaman dilakukan hanya sekali dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan berdampak negatif terhadap perkebunan dan terhadap usaha karet alam nasional.

Bahan tanaman karet yang dianjurkan adalah bahan tanaman klon yang diperbanyak secara okulasi. Dibandingkan dengan bibit semaian, penggunaan bahan tanam klon sangat menguntungkan karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa tanaman belum menghasilkan lebih cepat, tanaman lebih seragam sehingga produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi serta memiliki sifat sekunder yang diinginkan seperti relatif tahan terhadap penyakit tertentu, batang tegap, responsif terhadap stimulan dan pupuk, serta volume kayu per pohon tinggi.

Untuk mendapatkan bahan tanam karet yang bermutu baik, maka perlu diperhatikan proses pengadaan serta standar mutu benih yang dihasilkan. Jika semua standar mutu pada setiap kegiatan telah diterapkan, dapat dipastikan bahwa masa tanaman belum menghasilkan menjadi lebih singkat 5-10 bulan dan produksi pada tahun sadap pertama meningkat 110-500 kg/ha/tahun. Potensi klon akan terealisasi secara komersil jika digunakan bahan tanam bermutu baik dan dipelihara di lapangan menurut kultur tehnik anjuran.

II. Klon Karet Anjuran
Klon karet anjuran komersial adalah klon unggul yang dianjurkan untuk pengembangan komersial dalam skala luas yang menurut undang-undang No.12 tahun 1992 disebut sebagai benih bina.

Klon anjuran komersial terdiri dari:
– Klon penghasil lateks :
BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260

– Klon penghasil lateks-kayu :
BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.

– Klon penghasil kayu :
IRR 70, IRR 71, IRR 72 dan IRR 78.

III. Jenis Bibit Karet
Ada 2 jenis bibit karet yang banyak diproduksi yaitu:

1. Stump okulasi mata tidur

Standar bibit stump okulasi mata tidur
Stump segar dan tunas tempelan hidup.
Diameter batang okulasi 1,3-3,0 cm (umur 10 -14 bulan).
Akar tunggang 25 – 35 cm.
Tidak terserang jamur akar putih.

Sumber : sinartani.com

Intensifikasi Pertanian Lahan Kering


I. PENDAHULUAN

Tanah sebagai lahan pertanian merupakan salah satu unsur produksi yang turut menentukan keberhasilan suatu usaha tani. Selain untuk usahatani, tanah juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti untuk perkampungan, perkotaan, perumahan, perkantoran, jalan dan sebagainya. Karena itu tanah mempunyai nilai dan peranan yang dinamis bagi keperluan hidup manusia.

Sumberdaya tanah di Indonesia tersebar di kepulauan Nusantara dan sebagian besar merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk keperluan pertanian. Potensi lahan kering tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung dari berbagai faktor antara lain : topografi/bentuk wilayah, geologi dan keadaan tanah, iklim (suhu, curah hujan, angin dan penyinaran), keadaan sumberdaya air dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Adanya perbedaan potensi itu menyebabkan pula perlunya pemilihan jenis usaha tani dan macam teknologi yang sesuai dengan potensi lahan kering tersebut.
pada waktu hujan deras. Aliran ini akan mengikis dan menghanyutkan lapisan tanah bagian atas yang relatif lebih subur, sehingga tanah di tempat itu makin lama makin tandus. Pada tingkat kerusakan yang cukup parah, akhirnya tanah tidak dapat lagi berfungsi sebagai unsur produksi seperti yang diharapkan.

Usaha-usaha konservasi yang dapat dilakukan antara lain dengan membangun teras (sengkedan/pe-matang) dan saluran pembuangan air, menanam tanaman penguat teras, mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah atau dapat pula menanam pohon sebagai tegakan tetap pada lahan kering yang miring.

Untuk mengurangi resiko kegagalan berusahatani di lahan kering, sangat dianjurkan melakukan pola aneka usahatani secara terpadu. Misalnya pada luas lahan tertentu diusahakan tanaman semusim, tanaman perkebunan, tanaman makanan ternak dan dibarengi memelihara ternak. Pemilihan jenis usahatani ini disesuaikan»dengan iklim setempat, keinginan para petani serta berbagai aspek dalam pemasaran hasilnya.

A. PENGERTIAN

Beberapa pendapat tentang pengertian intensifikasi pertanian dan lahan kering cukup banyak dike-mukakan oleh para akhli pertanian. Oleh karena itu dalam brosur ini hanya akan dikemukakan pengertian intensifikasi pertanian lahan kering secara terbatas dan ditujukan untuk daerah lahan kering dengan penduduk cukup padat.

Intensifikasi pertanian dapat diartikan sebagai usaha peningkatan dan penggiatan pemanfaatan berbagai macam sarana produksi pertanian secara ekonomis pada suatu luasan lahan tertentu yang disertai melakukan usaha konservasi sumberdaya alam. Tujuannya adalah untuk memperoleh produksi yang tinggi dengan tambahan hasil yang selalu menguntungkan.

Lahan kering diartikan sebagai sebidang tanah yang dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain :
— peka terhadap erosi, terutama bila tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi
— tingkat kesuburan tanahnya rendah
— air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah hujan
— lapisan olah dan lapisan tanah di bawahnya (top soil dan sub soil) memiliki kelembaban yang amat rendah.

Dari uraian tersebut, yang diartikan intensifikasi pertanian lahan kering di sini adalah usaha intensifikasi pertanian yang dilaksanakan pada sebidang lahan kering dengan tujuan untuk memperoleh produksi yang tinggi dan menguntungkan dengan disertai usaha-usaha konservasi tanah dan air. Pelaksanaan usaha intensifikasi pertanian tersebut akan lebih berhasil bila dilakukan di daerah yang tenaga kerja dan berbagai sarana produksi pertaniannya cukup tersedia dengan pengelolaan aneka usahatani secara terpadu.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud intensifikasi pertanian lahan kering adalah upaya pengelolaan lahan dalam rangka meningkatkan serta mendayagunakan lahan tersebut agar dapat berdayacjuna dan berhasilguna secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan sekaligus dapat melestarikan lingkungan secara berkesinambungan.

Tujuannya adalah :
1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani.
2. Meningkatkan kemampuan petani pemilik dalam usahataninya.
3. Meningkatkan produktifitas tanah, baik dalam bentuk tanaman semusim, tanaman kayu-kayuan maupun hasil lainnya.
4. Meningkatkan kelestarian tanah dan air.

C. SASARAN

Usaha intensifikasi pertanian memerlukan berbagai sarana produksi serta tenaga kerja manusia sebagai pengelola usahatani. Tanpa tersedia sarana produksi dan tenaga kerja manusia, maka usaha intensifikasi pertanian itu sulit dilakukan. Oleh sebab itu yang menjadi sasaran lokasi usaha intensifikasi pertanian di sini adalah lahan kering tadah hujan milik rakyat yang digarap untuk tanaman semusim.

III. Usaha Konservasi

Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu, kondisi lahan kering mempunyai permasalahan yang harus diatasi yaitu tingkat erosi yang tinggi, kesuburannya rendah serta jumlah air yang sangat terbatas. Karena itu pemanfaatan lahan kering untuk usahata-ni harus disertai dengan usaha konservasi tanah dan air.

Ada tiga cara pendekatan dalam usaha konservasi yaitu :
1. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar tahan terhadap bahaya erosi.
2. Melindungi tanah dari jatuhnya air hujan dengan tanaman atau sisa-sisa tanaman.
3. Memperlambat aliran air di permukaan tanah sehingga tidak merusak lahan.

Pelaksanaan dari usaha konservasi biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama membuat bangunan-bangunan sipil teKnis dan kedua secara kultur teknis atau vegetatif.

A. BANGUNAN SIPIL TEKNIS

Bangunan sipil teknis yang perlu dibuat adalah teras dan saluran pembuangan air. Fungsi bangunan tersebut yaitu 1) memperlambat aliran permukaan dan 2) menampung dan menyalurkan air aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak.

1. TERAS

Pembuatan teras bermaksud untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah.

Ada 4 macam teras yang dapat dibuat pada tanah miring, yaitu :
a. Teras uatar, biasanya dibuat pada tempat-tempat dengan curah hujan yang rendah, kemi ringan tanahnya paling besar 3% dan mudah menyerap air.
b. Teras kredit, umumnya diterapkan pada tempat-tempat yang tanahnya sulit menyerap air kemiringan tanahnya 3 – 10% dan curah hujannya tinggi. Tujuannya, terutama ialah untuk mempertahankan kesuburan tanah.
c. Teras guludan, dibuat pada tempat-tempat dengan kemiringan tanah 10 — 50% dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air di sepanjang bagian atas guludan. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang mengalir bila turun hujaa, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air ke dalam tanah dapat diperbesar.
d. Teras bangku, dibuat pada tanah-tanah dengan kemiringan 10 – 30%. Teras bangku memiliki bidang olah yang dibuat miring 1% ke-arah dalam serta dilengkapi dengan saluran air yang letaknya di sebelah dalam bidang olah teras.

2. SALURAN PEMBUANGAN AIR

Saluran pembuangan air merupakan bagian yang harus ada bila teras guludan atau teras bangku dibuat pada tanah miring. Pembuatannya dengan arah memotong garis kontur. Bila keadaan memungkinkan saluran pembuangan air ini ditempatkan pada saluran alam yang ada.

Pada saluran pembuangan air biasanya dibuatkan bangunan terjuhan secara bertingkat, mulai dari bagian atas sampai ke bagian terbawah dengan permukaan yang datar. Deretan bangunan terjunan ini berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terbentuknya jurang-jurang yang dalam pada saluran pembuangan. Bangunan terjunan dapat dibuat dari bambu atau batu kali.

B. KULTUR TEKNIS

Usaha konservasi secara kultur teknis atau vegetatif berarti melakukan konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk 1) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, 2) melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan, dan 3) memperbaiki penyerapan air oleh tanah.

Jenis tanaman untuk konservasi sebaiknya dipilih tanaman yang dapat berfungsi ganda, produksinya dapat dimanfaatkan oleh manusia atau hewan dan tanamannya baik untuk konservasi tanah dan air.

Beberapa cara melakukan konservasi secara kultur teknis adalah :

1. Penanaman tanaman penutup tanah.

Tanaman pentutup tanah berfungsi untuk mencegah erosi, menambah bahan organik tanah dan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air hujan yang jatuh.

Ada tiga jenis tanaman penutup tanah yang penting yaitu :

a. Tanaman penutup tanah rendah, seperti Colopogonium mucnnoides Desv, Centrosema pubescens Benth, Ageratum conizoides L (Babadotan) dan beberapa jenis rumput-rumputan misalnya akar wangi, rumput gajah dan rumput benggala.
b. Tanaman penutup tanah sedang, berupa semak seperti; beberapa tanaman leguminosa (kacang-Kacangan; yaitu Crotalaria anagyroides, C. juncea L, dan C. striata.
c. Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung,seperti Albizzia falcata Backer dan Leucaena leucocephala (lamtoro gung).

2. Penanaman rumput makanan ternak.

Beberapa rumput makanan ternak baik ditanam pada lahan kering untuk konservasi tanah dan air. Bila lahan kering tersebut datar, rumput dapat ditanam tersendiri atau sebagai sisipan diantara tanaman lainnya.

Untuk tanah miring yang berteras, rumput tersebut bisa ditanam pada bagian tepi teras atau pada tampingan teras.

Contoh rumput makanan ternak yang baik ditanam antara lain rumput gajah, rumput benggala, rumput signal (Brachiaria decumbens Staph) dan rumput setaria (Setaria sphacelata).

3. Penanaman dalam jalur

Penanaman dalam jalur (strip cropping) adalah suatu sistem bercocok tanam dengan cara beberapa jenis tanaman ditanam dalam jalur-jalur yang berselang-seling pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut kontur. Biasanya tanaman yang dipergunakan adalah tanaman pangan atau tanaman semusim yang biasa ditanam berbaris diselingi dengan jalur-jalur tanaman yang tumbuh rapat berupa tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah.

Dalam sistim ini semua pekerjaan pengolahan tanah dilakukan searah dengan jalur, melaksanakan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman.

4. Pergiliran tanaman.

Cara penting lainnya untuk konservasi tanah dan air ialah dengan pergiliran tanaman, yaitu sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah.

Pada lahan kering yang berlereng atau tanahnya miring, pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah antara tanaman penghasil bahan pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau.

Selain mencegah erosi, keuntungan lain dari pergiliran tanaman adalah :
— memberantas hama dan penyakit tanaman melalui pemutusan siklus hidupnya.
— memberantas tumbuhan pengganggu/gulma.
— mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah.

5. Penggunaan sisa-sisa tanaman.

Salah satu cara menambah unsur hara tanah yaitu dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah. Pembenaman sisa tanaman dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara keseimbangan unsur hara tanah

Selain dibenamkan ke dalam tanah, sisa-sisa tanaman dapat pula diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulch) yang dapat mempertahankan kelembaban tanah.

Dengan mulching penguapan air tanah dapat diperkecil, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat tetap hidup.

6. Penanaman tanaman penguat teras.

Tanaman penguat teras dapat dipilih jenisnya sesuai dengan keinginan para petani. Bentuk tanaman penguat teras ini dapat berupa pohon-pohon atau rumput-rumputan.

Tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah sebagai berikut :
— mempunyai sistem perakaran intensif sehingga mampu mengikat tanah.
— tahan pangkas, supaya tidak menaungi tanaman utama.
— bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak.

Contoh tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtoro gung, kaliandra, gamal, akasia, rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria.

IV. Usaha Peningkatan Produksi

Pada prinsipnya usahatani di lahan kering tidak berbeda dengan usahatani di lahan basah. Persoalannya adalah bagaimana caranya mengelola masalah air. Oleh karena itu usaha intensifikasi pertanian lahan kering harus dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air. Dengan demikian, maka produksi pertanian dapat diharapkan meningkat.

Dalam rangka peningkatan produksi pertanian di lahan kering, beberapa usaha yang perlu dilakukan adalah penggunaan varietas unggul,pengolahan tanah, menerapkan pola tanam, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman.

A. PENGGUNAAN VARITAS UNGGUL.

Untuk memperoleh hasil yang tinggi, benih atau bibit harus dari varietas yang unggul dan sesuai dengan kondisi lahan kering yang ada. Demikian pula bila anda akan memelihara ternak, pilihlah jenis ternak yang unggul sesuai dengan iklim di lahan kering.

Jenis atau varietas unggul adalah varietas yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat unggul yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim tempat varietas itu diusahakan.

Untuk tanaman, sifat-sifat unggul itu antara lain produksinya tinggi, respon terhadap pemupukan, efisien dalam pemakaian air, tahan terhadap hama dan penyakit. Sedangkan untuk ternak, sifat unggul tersebut misalnya saja banyak anak, tahan penyakit, pertumbuhan.cepat dan mudah beradaptasi.

Beberapa jenis tanaman padi dan palawija yang cocok untuk lahan kering antara lain,padi varietas IR 36, Gati dan C-22 Gama 6, Cartuna, Jagung varietas DM R 5, Harapan baru dan Bogor DM R 4, Ar juna, Parikesit, kacang tanah varietas Gajah/Kidang serta kacang uci varietas lokal, kedele varietas orba, galunggung, lokon dan guntur; kacang hijau varietas merak, bakti.

B. PENGOLAHAN TANAH

Pengolahan tanah lahan kering hendaknya dengan membuat teras yang sempurna agar kesuburan tanah dapat terpelihara. Selain itu disarankan agar

1. Tanah diolah sebaik mungkin.
2. Pengolahan tanah cukup 2 kali, yaitu sebelum dan pada awal musim hujan.
3. Jika tanahnya miring, olahlah tanah menurut kontur dan membuat teras.

C. POLA TANAM

Penerapan pola tanam pada lahan kering bermaksud agar sepanjang tahun terdapat tanaman. Dengan demikian erosi dapat diperkecil dan sekaligus lahan berproduksi. Beberapa pola tanam yang telah dikenal dan dapat diterapkan pada usaha intensifikasi pertanian lahan kering, yaitu :

1. Tumpang sari.

Pada pola tanam tumpang sari, dua atau lebih jenis tanaman ditanam dalam barisan yang teratur. Salah satu dari jenis tanaman itu merupakan tanaman utama, yakni tanaman yang hasilnya di harapkan paling banyak.

Menurut waktu tanamnya, tumpang sari ada dua macam :

a. tumpang sari sama umur (intercropping), yaitu bila waktu penanaman atau panennya hampir bersamaan.

Contoh :
— tumpang sari antara jagung dengan kedelai, kacang tanah atau dengan kacang hijau.
— tumpang sari antara padi gogo dengan jagung.

b. tumpang sari beda umur (interplanting), yaitu bila waktu penanaman atau panennya tidak bersamaan.

Contoh :
— tanaman semusim yang ditanam sebagai tanaman sela di antara tanaman tahunan.

2. Tanaman sisipan.

Pada pola ini suatu jenis tanaman ditanam di antara jenis tanaman lain yang hampir dipanen.

Contoh:
— kedelai ditanam di antara barisan tanaman jagung yang akan dipanen.

3. Tanaman beruntun.

Pada pola tanam ini suatu jenis tanaman ditanam segera sesudah jenis tanaman lain dipanen.

Contoh :
— kedelai ditanam segera sesudah jagung atau padi gogo dipanen.

4. Pola tanam kombinasi.

Pola tanam ini telah dicoba selama beberapa tahun di lahan kering daerah transmigrasi Way Abung Lampung dengan hasil yang baik. Dengan pola tanam kombinasi, maka selama waktu satu tahun ketiga macam pola tanam yang terdahulu dilaksanakan untuk paling sedikit 5 jenis tanaman yang secara ekonomis menguntungkan. Pelaksanaan dari pola tanam tersebut adalah sebagai berikut :

Tanaman pertama adalah tumpang sari jagung + padi gogo. Satu bulan setelah padi ditanam, ketela pohon/singkong disisipkan di antara barisan jagung. Kemudian setelah padi dipanen, kacang tanah ditanam pada bekas barisan padi.

Selanjutnya, kacang tunggak ditanam setelah kacang tanah dipanen.

Untuk lebih jelasnya, contoh pola tanam lahan kering Way Abung dapat dilihat pada bagan. Sedangkan untuk daerah lahan kering lainnya, pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan keadaan iklim setempat, terutama curah hujannya.


D. PEMUPUKAN

Tujuan pemupukan antara lain untuk :

1. menyediakan beberapa unsur hara sebagai penyubur tanaman, terutama berupa unsur Nitrogen (N), Fosfat (P) dan Kalium (K).
2. memperbaiki struktur dan kegemburan tanah.
3. mengurangi tingkat keasaman tanah, yaitu dengan melakukan pengapuran.

Namun pemupukan pada lahan kering tidak akan menguntungkan sebelum usaha-usaha pencegahan erosi dilaksanakan.

Ada dua jenis pupuk, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik sering disebut pupuk alam dan pupuk anorganik disebut juga pupuk buatan.

Contoh pupuk alam ialah pupuk hijau, kotoran ternak dan kompos.
Urea, TSP, ZA dan KCI adalah sebagian contoh pupuk buatan.

Daun tanaman dari berbagai jenis kacang-kacangan atau polong-polongan, baik digunakan sebagai pupuk hijau. Misalnya daun lamtoro, kaliandra dan orok-orok. Begitu pula kotoran dari berbagai macam ternak sangat baik digunakan untuk memupuk tanaman. Bila pupuk kandang dan kompos digunakan, harus dipilih yang sudah masak agar dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Jika belum masak, maka akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk alam atau pupuk buatan yang diberikan pada tanaman sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan kering tersebut serta keperluan tanaman. Waktu pemupukan yang tepat juga penting diketahui. Pemberian pupuk alam biasanya sebelum tanam, yaitu ketika mengolah tanah. Sedangkan pupuk buatan diberikan sesuai dengan tingkat pertumbuhan/umur tanaman.

Seandainya anda belum jelas akan jumlah pupuk dan waktu pemberiannya yang tepat, maka dianjurkan untuk meminta informasi lebih lanjut kepada teman anda yang lebih mengetahui

E. PERLINDUNGAN TANAMAN

Perlindungan tanaman bertujuan agar tanaman terhindar dari gangguan berbagai macam hama dan penyakit yang merugikan. Usaha perlindungan dapat berupa pencegahan maupun pemberantasan. Usaha pencegahan antara lain pemberian pestisida pada tanah setelah diolah, pemberian pestisida pada bibit-bibit tanaman serta penyemprotan tanaman secara teratur.

Sedangkan usaha pemberantasan antara lain penyemprotan hama dan penyakit yang menyerang, pencabutan tanaman yang terserang dan atau membakar tanaman yang terserang.

Untuk melindungi tanaman, berbagai racun hama/penyakit dapat digunakan. Tapi pilihlah racun yang dapat bekerja secara efektif dan sesuai untuk melindungi tanaman yang anda usahakan. Juga mengenai dosis serta waktu pemberiannya perlu diketahui dengan tepat. Untuk itu bacalah petunjuk pemakaiannya yang tertera pada label. Bila mengalami kesulitan mintalah penjelasan lebih lanjut kepada teman sekerja anda, atau Dinas Pertanian setempat.

Sumber : Adi

Pedoman Budidaya Tanaman Lada


I. SYARAT-SYARAT TUMBUH

Iklim.

Tanaman lada untuk tumbuh baik menghendaki iklim sebagai berikut:
— Tinggi tempat dan permukaan laut 0 — 500 m
— Temperatur optimum 23°C — 30°C.
— Kelembaban tinggi.
— Curah hujan 2.000 — 2.500 mm/tahun terbagi rata sepanjang tahun.

Tanah.

Keadaan tanah yang dikehendaki lada adalah sebagai berikut:
— Gembur.
— Cukup tersedia unsur hara.
— Drainagenya baik.

II. PEMBIBITAN

Bahan tanaman dapat berasal dari stek maupun biji.

A. Bahan Bibit Asal Biji

– Hanya dipakat kalau tidak ada lagi bahan stek karena biayanya sangat mahal.
– Bahan bibit diambilkan dari biji yang betul-­betul sudah tua, dan dari buah yang terisolir yaitu buah-buah yang tandannya di­bungkus pada waktu masih berupa bunga.

B. Bahan bibit asal stek.

– Cara ini lazim dipergunakan karena mudah dan murah.
– Syarat-syarat bahan stek yang baik :

1. Berasal dari sulur panjat yang tumbuhnya keatas dan melekat pada pohon sandaran.
2. Panjang stek sekurang-kurangnya 7 ruas (dapat diambil terus menerus dari satu tanaman).
3. Stek diambil dari batang yang sudah agak mengayu dan dari tanaman yang sudah berumur ± 2 tahun.
4. Pohon induk harus kuat, pertumbuhan bagus, dan daun berwarna hijau tua.

III. PERSIAPAN DAN PENANAMAN DI KEBUN

Persiapan di kebun.

— Sediakan tiang-tiang pemanjat (pendukung). Tiang pemanjat ada 2 macam yaitu:

1. Tiang kayu/beton.
2. Pohon hidup (dadap minyak, dadap duri).

— Tiang-tiang pemanjat ditanam dengan jarak 2,5 x 2,5 m.
— Lubang tanaman dibuat disekeliling tiang pemanjat dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm.
— Apabila tanah miring buatlah teras-teras atau tanamlah tanaman penutup tanah.
— Pada tanah yang datar buatlah selokan-selokan pembuang air.

Penanaman di kebun.

— Stek langsung ditanamkan pada lubang tanam yang telah dipersiapkan didekat tiang pemanjat.
— Bagian stek yang dimasukkan kedalam tanah adalah 4 buku/ruas.
— Stek diletakkan miring didekat permukaan tanah.
— Sebaiknya tanah galian terlebih dahulu dicampur dengan pupuk kandang/kompos secukupnya.
— Berilah pelindung pada stek yang baru ditanam tersebut.

IV. PEMELIHARAAN.

— Bersihkan kebun dari rerumputan pengganggu.
— Pangkaslah pohon-pohon pemanjat, pada musim penghujan dengan pemangkasan berat dan pada musim kemarau dengan pemangkasan ringan.
— Ikatlah tanaman pada tiang-tiang pemanjat agar tanaman melekat pada tiang sebelum akar perekat menjadi kuat.
— Yang diikat hanyalah cabang yang tumbuh keatas sedangkan cabang-cabang samping tidak perlu.
— Buanglah cabang-cabang pada pangkal pohon yang menutup tanah.

Pemangkasan.

Tujuan :
1. Untuk memperoleh cabang samping (cabang buah) yang lebih banyak.
2. Untuk mendapatkan pohon yang rimbun.

Cara pemangkasan :
— Pemangkasan dilakukan pada ruas yang tidak terdapat cabang-cabang samping.
— Apabila tanaman sudah mempunyai 8 atau 9 ruas maka harus dipangkas pada ketinggian 25-30 cm dari tanah.
— Tunas yang tumbuh dari batang stek utama harus dipangkas pula dan pangkasannya dapat dijadikan sebagai bahan stek.
— Sulur-sulur yang kemudian tumbuh diikatkan ketiang pemanjat dan bila telah lebih dari 10 ruas dipangkas lagi hingga tinggal 3-4 ruas dari pangkasan pertama.
— Pemangkasan dilakukan terus sampai sulur mencapai ujung tiang pemanjat.

V. PEMUPUKAN.

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang tinggi tanaman lada perlu diberikan pupuk organis (pupuk kandang, kompos) dan pupuk anorganis (pupuk buatan).
Pupuk organis diberikan sebagai pupuk pendahuluan sebanyak 5-10 kg per lubang tanaman. Untuk pupuk buatan dapat diberikan pupuk Urea, TSP dan KCL.

Dosis pupuk.

Dosis pupuk tergantung kepada kesuburan tanah, umur tanaman, dan lain-lain.
Sebagai pedoman umum pemupukan lada dengan Urea, TSP dan KCL dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Untuk tanaman muda:

I. Umur 8-12 bulan:

Urea : 50 gr/pohon/tahun.
TSP : 25 gr/pohon/tahun.
KCL : 20 gr/pohon/tahun.

II. Umur 1-2 tahun:

Urea : 100 gr/pohon/tahun.
TSP : 50 gr/pohon/tahun.
KCL : 40 gr/pohon/tahun.

III. Umur 2-3 tahun:

Urea : 200 gr/pohon/tahun.
TSP : 100 gr/pohon/tahun.
KCL : 80 gr/pohon/tahun.

b. Untuk tanaman yang sudah berproduksi.

Dosis pupuk yang diberikan sebagai berikut:

Urea : 400 — 500 kg/Ha/Tahun.
TSP : 400 – 500 kg/Ha/Tahun.
KCL : 300 — 375 kg/Ha/Tahun.

Waktu pemupukan.
Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada setiap awal dan akhir musim penghujan diberikan masing-masingnya setengah bahagian dari dosis diatas.

Cara pemupukan.
— Buatlah lubang pdpuk/parit kecil disekeliling pangkal batang sejarak ujung dari tajuk pohon.
— Campurkanlah pupuk Urea, TSP dan KCL sesuai dengan dosis kemudian dimasukkan ke dalam lubang pupuk tersebut.
— Setelah pupuk dimasukkan segera ditutup kembali dengan tanah.

Catatan:
Pupuk dapat diberikan secara sendiri-sendiri atau secara campuran. Pencampuran Urea, TSP dan KCL hanya dapat dilakukan apabila setelah pencampuran tersebut segera dilaksanakan pemupukan, dan pupuk yang sudah tercampur tadi harus habis dalam satu kali pemupukan.

VI. PEMBERANTASAN HAMA DAN PENYAKIT
.

Hama.

1. Pengisap buah (Dasynus piperis CHN)
(Sumatera = Semunjung, Kalimantan = Bilahu).
— Kepik mengisap cairan sel buah lada mengakibatkan buah berbintik-bintik kuning.
– Apabila yang dihisap buah muda maka
buah akan mudah gugur.
— Yang terutama diserang adalah buah-buah muda umur 4,5 — 6 bulan.
— Untuk pemberantasannya dapat dipakai Thiodan 35 e.c. dengan dosis 1,5 cc — 2 cc per liter air, dengan selang waktu 1-2 minggu tergantung berat ringannya serangan.

Catatan:
3 minggu sebelum panen penyemprotan harus sudah dihentikan

2. Penggerek cabang (Lophobaris piperis MARSH)
— Dikenal juga sebagai kumbang moncong lada.
— Kumbang betina bertelur rata-rata 250 butir, telur diletakkan dalam liang yang dibuat pada sendi-sendi diantara ruas cabang tanaman lada.
— Larva yang telah menetas, menggerek bagian dalam cabang tersebut akibatnya batang dibagian atas gerekan menjadi layu dan akhirnya kering/mati.
— Panjang larva maksimum 8 mm, edaran hidupnya ± 45-60 hari.
— Pemberantasan:
Secara mekanis dengan memangkas cabang yang terserang dan membunuh larva serta kumbangnya.
Secara kimia penyemprotan dengan Thiodan 35 e.c. dengan dosis 1,5 cc — 2 cc per liter air atau Lannate 5 gram per 10 liter

Penyakit.

Penyakit busuk kaki lada.
— Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora varpiperis.
— Tanaman yang terserang menjadi layu, daun kuning kemudian berubah menjadi hitam dan akhirnya gugur. Pengguguran dimulai dari cabang-cabang yang terbawah terus keatas.
— Cendawan dapat bertahan lama didalam tanah, penularan melalui air dan tanah yang berpenyakit.
— Kelembaban yang tinggi akibat jarak tanam yang terlalu rapat, pohon pelindung yang tidak dipangkas dan drainage jelek sangat membantu perkembangan penyakit ini.

Pemberantasan.
— Pencegahan dengan menanam lada Belantung yang tahan penyakit busuk pangkal batang.
— Pemangkasan pohon-pohon panjatan secara teratur.
— Membuat saluran-saluran drainage.
— Pemberantasan secara kimiawi menggunakan fungisida Brestan & Dithane M-45 dengan dosis 20 gr per 10 liter air. Caranya disemprotkan pada daun dan dituangkan pada pangkal batang/akar.

VII. PEMUNGUTAN HASIL.

Buah lada harus dipetik apabila suduh cukup tua yaitu apabila sudah berumur ± 7 bulan. Pada waktu itu buah sudah berubah warna dari hijau menjadi kuning kemerah-merahan. Apabila pemungutan terlambat buah akan mudah gugur atau dimakan burung.
Pemetikan dilakukan dengan tangan dan memakai tangga. Pemungutan dilakukan seminggu sekali sampai selesai. Pada waktu pemungutan terakhir,baik semua buah yang sudah masak maupun yang belum masak dirontokkan semuanya.

VIII.PENGOLAHAN HASIL.

Ada 2 cara dalam pengolahan hasil lada yaitu:
a. Untuk mendapatkan hasil lada putih.
b. Untuk mendapatkan hasil lada hitam.

A. Untuk mendapatkan lada putih buah lada diperlakukan sebagai berikut:

— Buah lada yang baru dipetik dimasukkan dalam karung dan direndam dalam air yang mengalir.
— Sesudah direndam kemudian dibersihkan; bijinya dipisahkan dari kulitnya dan tangkai, dengan cara diinjak-injak, kemudian diayak. Setelah dipisahkan kemudian biji lada direndam kembali dalam. air mengalir 1-2 hari sehingga biji menjadi putih bersih.
— Setelah bersih kemudian biji lada dijemur sampai kering kira-kira 3 hari.

B. Untuk mendapatkan lada hitam buah lada diproses sebagai berikut:

— Buah lada setelah dipetik Iangsung dijemur dipanas matahari selama kira-kira 2-3 hari.
— Sambil menjemur buah lada dipisahkan dari tangkai-tangkainya.
— Kemudian diayak sampai bersih.

Sumber : Adi

Budidaya TAnaman Coklat


Prospek Besar Budidaya Tanaman Cokelat

Tanaman cokelat di Indonesia pertama kali dibudidayakan pada 1921 dan berkembang pesat di daerah-daerah pulau Jawa. Sekarang tanaman cokelat sudah menyebar di seluruh Indonesia. Perkembangan cokelat sangat pesat, karena semakin meningkatnya kebutuhan akan tanaman jenis itu, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

Syarat tumbuh
Bila kita ingin mengembangkan budidaya tanaman cokelat yang perlu diperhatikan adalah daerah tanam ketinggiannya tidak lebih dari 800 meter di atas permukaan air laut, dengan suhu 30º C – 32º C (maksimum) dan 18º C – 21º C (minimum) dengan pH 5,6 – 7,2 serta daerah yang bercurah hujan 1100 mm/tahun – 3000 mm/tahun.

Pembibitan
Biji hendaknya berasal dari pohon yang sehat, produksi tinggi, dan berbuah sepanjang tahun. Biji diambil dari bagian tengah buah dan pulpnya belum mengering. Kalau pulpnya sudah kering biasanya biji sudah berkecambah di dalam buah dan sebaiknya jangan dijadikan bahan tanaman.

Sebelum dikecambahkan biji harus dibersihkan dari pulp yang menempel dengan cara menggosok biji bercampur abu dapur. Hal ini untuk menghindarkan tumbuhnya jamur dan serangga semut. Setelah itu biji dijemur namun jangan sampai keriput. Biji dikecambahkan di bedengan pada media pasir setebal 20 cm yang diberi naungan setinggi 1,5 cm di sisi timur dan 2 cm di sisi barat.

Panen
Sejak dari fase pertumbuhan sampai menjadi buah matang memerlukan waktu kurang lebih 5 bulan. Buah matang dicirikan dengan perubahan warna kulit buah dan biji yang melepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang biasanya berbunyi. Perubahan warna dan pengelompokan warna kelas kematangan buah lihat tabel.

Perubahan Warna Bagian Kulit Buah yang Mengalami Perubahan Warna Kelas Kematangan Buah Kuning Pada alur buah C Kuning Pada alur dan punggung alur buah B Kuning Pada seluruh permukaan buah A Kuning Tua Pada seluruh permukaan buah A+ Pada saat memanen buah harus diusahakan agar tidak melukai batang atau cabang yang ditumbuhi buah dan dipotong tepat pada tangkai buah. Luka pada batang dan cabang mengakibatkan bunga tidak tumbuh lagi pada periode berikutnya.

Penyakit
Adanya bercak hitam kecil tidak teratur serta pengeringan dan pengeriputan mengakibatkan daun gugur, di ujung tunas menyebabkan tumbuhnya banyak tunas muda dengan ruas pendek. Pada buah mudanya terlihat gejala bercak coklat diikuti dengan pertumbuhan buah yang aneh bentuknya. Infeksi berawal dari ujung atau pangkal buah. Beberapa hari kemudian buah akan mengering dan mati. Pengendalian dengan menggunakan fungsida dan sanitasi lingkungan, serta memberi jalur penuh dengan areal pertanaman karet

Sumber : pakkatnews.com

Budidaya Cengkeh


SYARAT PERTUMBUHAN

– Tanaman tumbuh optimal pada 300 – 600 dpal dengan suhu 22°-30°C, curah hujan yang dikehendaki 1500 4500 mm/tahun

– Tanah gembur dengan dalam solum minimum 2 m, tidak berpadas dengan pH optimal 5,5 – 6,5. Tanah jenis latosol, andosoldan podsolik merah baik untuk dijadikan perkebunan cengkih.

III. PEMBIBITAN

– Buat bedengan untuk naungan dengan lebar 1- 1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan dengan arah membujur ke utara selatan. Kanan kiri bedengan dibuat parit sedalam 20 cm dan lebar 50 cm. Diatas bedengan dibuat naungan setinggi 1,8 m dibagian timur dan 1,2 m dibagian selatan, intensitas cahaya 75%.

– Benih dibenamkan pada media di polybag ukuran 15 cm x 20 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 1 tahun) atau ukuran 20 cm x 25 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 2 tahun) yang bagian bawahnya telah dilubangi 2,5 mm dengan jarak 2 x 2 cm. Media yang digunakan pasir halus, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, dan berikan Natural GLIO per 20 25 kg pupuk kandang yang telah jadi dan diperam selama ± 2 minggu. Dan sebelum bibit ditanam siram tanah dengan POC NASA 5 ml/lt air atau 0,5 tutup per liter air. -Kemudian susun polybag pada persemaian yang telah disiapkan.

– Penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari. Penyiangan dilakukan 2-3 kali dalam sebulan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Intensitas naungan perlahan-lahan dikurangi secara bertahap hingga tinggal 40% saat bibit dipindahkan ke lapang.

– Pemupukan dengan NPK dilakukan dengan dosis 10 gr/pohon/tahun atau dengan Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 3,5 gr/bibit/tahun . Pupuk tersebut diberikan tiap 3 bulan sekali sedangkan untuk yang didalam polibag diberikan sebanyak 1,5 bulan sekali.

Catatan : Akan lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPERNASA interval 4 bulan sekali dengan dosis 1 botol untuk ± 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap bibit.

IV. PENGAJIRAN

Pengajiran dilakukan pada blok tanaman untuk memudahkan penanaman dengan jarak tanam 8 x 8 m dengan pola bujursangkar atau empatpersegi panjang.

V. PENANAMAN

Cangkul tanah yang telah diberi ajir dengan ukuran lubang tanam 75 x 75 x 75 cm. Lakukan penanaman pada awal musim hujan. Berikanlah pupuk kandang 25 – 50 kg yang telah dicampur dengan 1 pak Natural GLIO dan 1,5 – 2 kg dolomit, campur hingga rata. Masukan 5-10 kg campuran tersebut per lubang tanam. Masukkan bibit dan gumpalan tanahnya kedalam lubang hingga batas leher akar. Beri peneduh buatan setingggi 30 cm dengan intensitas 50%. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis 2-3 ml/liter air per bibit atau semprot POC NASA dosis 2 tutup/ tangki. Hasil akan lebih bagus dengan menggunakan SUPERNASA dengan cara : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) dijadikan larutan induk. Kemudian dalam 1 liter air ditambahkan 10 ml larutan induk kemudian diberikan untuk setiap pohonnya.

Pengaturan peneduh dilakukan antara 4-6 bulan sekali.

. PEMUPUKAN

UMUR PUPUK MAKRO
Urea TSP KCl Dolomit
0,5 50 25 35 50
1 100 50 75 100
2 150 75 125 150
3 200 100 150 200
4 500 200 400 400
5 750 300 600 500
6 1000 400 800 750
7 1500 500 1000 1000
8 2200 600 1250 2000
9 2600 700 1500 2500
10 3000 800 1750 2900
11 3500 900 2000 3300
12 3500 900 2250 3800

Catatan :

– Bila diberikan dua periode pemberian pupuk pertama dilakukan awal musim hujan (September-Oktober) dan kedua pada akhir musim hujan (Maret-April).

– Siramkan SUPERNASA atau POWER NUTRITION dosis 1 sendok makan per 10 lt air per pohon setiap 3-6 bulan sekali

– Semprotkan POC NASA dosis 3 – 4 tutup + HORMONIK dosis 1-2 tutup pertangki setiap 1-2 bulan sekali hingga umur 5 tahun.

2.3 Perlindungan Tanaman

A. Kutu daun ( Coccus viridis )

Bagian yang diserang : ranting muda, daun muda. Gejala : Pertumbuhan yang dihisapnya akan terhenti misal ranting mengering, daun dan bunga kering dan rontok. Pencegahan gunakan PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR

B. Penggerek ranting/batang (Xyleborus sp )

Bagian yang diserang : ranting/batang. Gejala : Liang gerekan berupa lubang kecil, serangan hebat menyebabkan ranting / batang menjadi rapuh dan mudah patah.Pengendalian : Pangkas ranting/batang yang terserang, pencegahan gunakan PESTONA atau Natural BVR.

C. Kepik Helopeltis ( Helopeltis sp )

Bagian yang diserang : pucuk atau daun muda. Gejala : Biasanya pucuk akan mati dan daun muda berguguran.Pencegahan : Semprotkan Natural BVR atau PESTONA.

D. Penyakit mati bujang ( bakteri Xylemlimited bacterium ).

Bagian yang terserang : perakaran, ranting-ranting muda. Gejala : matinya ranting pada ujung-ujung tanaman.Gugurnya daun diikuti dengan matinya ranting secara bersamaan. Pengendalian : pengaturan drainase yang baik, penggemburan tanah, pencegahan kocorkan POC NASA + HORMONIK + NATURAL GLIO.

E. Penyakit busuk akar (Pytium rhizoctonia dan Phytopthora ).

Bagian yang diserang : perakaran. Gejala : pada pembibitan tanaman mati secara tiba-tiba, pada tanaman dewasa daun mengering mulai dari ranting bagian bawah. Pengendalian : bila serangan telah ganas maka tanaman yang terserang dibongkar dan dimusnahkan, lubang bekas tanaman berikan tepung belerang 200 gr secara merata, isolasi tanaman atau daerah yang terserang dengan membuat saluran isolasi, perbaiki drainase, gunakan Natural GLIO pada awal penanaman untuk pencegahan.

Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki

2.4 Panen

Cengkih dapat mulai dipanen mulai umur tanaman 4,5 – 6,5 tahun, untuk memperoleh mutu yang baik bunga cengkih dipetik saat matang petik, yaitu saat kepala bunga kelihatan sudah penuh tetapi belum membuka. Matang petik setiap tanaman umumnya tidak serempak dan pemetikan dapat diulangi setiap 10-14 hari selama 3-4 bulan. Bunga cengkih dipetik per tandan tepat diatas buku daun terakhir. Bunga yang telah dipetik lalu dimasukkan ke dalam keranjang/karung kecil dan dibawa ke tempat pengolahan.

2.5 Pengolahan Pascapanen

– Sortasi buah. Lakukan pemisahan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda.

– Pemeraman. Pemeraman dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkih menjadi coklat mengkilat.

– Pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu bakar atau bahan bakar minyak.Dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan dengan matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14%, dan dapat disimpan dan aman dari jamur.

– Sortasi. Pada tahap ini cengkih dipisahkan dari kotoran dengan cara ditampi. Kemudian cengkih yang sudah bersih dimasukan pada karung dan dijahit.

PERMINTAAN NASIONAL DAN EKSPOR

Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, yang pada awalnya merupakan komoditas ekspor, berubah posisi menjadi komoditas yang harus diimpor karena pesatnya perkembangan indutri rokok kretek. Industri rokok kretek sendiri, berkembang sejak akhir abad ke-19. Tingginya kebutuhan devisa untuk memenuhi kebutuhan mengakibatkan ditetapkannya program swasembada cengkeh pada tahun 1970, antara lain melalui perluasan areal.

Hasil dari pelaksanaan program swasembada cengkeh adalah terjadinya perkembangan luas areal yang sangat mencolok dari 82.387 ha tahun 1970 menjadi 724.986 ha tahun 1990. Swasembada dinyatakan tercapai pada tahun 1991, bahkan terlampaui, tetapi bersamaan dengan itu terjadi penurunan harga. Untuk membantu petani mengatasi hal tersebut pemerintah campur tangan dengan: (1) mengatur tataniaga melalui pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC), (2) mendiversifikasi hasil dan (3) mengkonversi sebagian areal. Namun demikian upaya-upaya ini tidak berhasil yang diindikasikan harga tetap tidak membaik, sehingga petani menelantarkan pertanamannya.

Karena diterlantarkan petani, areal cengkeh berkurang drastis. Pada tahun 2000 luas areal cengkeh tinggal 428 000 ha dan tahun 2003 tinggal 228 000 ha. Perkiraan untuk 2005 areal tanaman menghasilkan (TM) tinggal 213.182 ha. Produksi juga turun sejak tahun 2000, sehingga diperkirakan tanpa upaya penyelamatan, tahun 2009 produksi cengkeh Indonesia hanya akan mampu menyediakan sekitar 50 % dari kebutuhan pabrik rokok kretek yang rata-rata empat tahun terakhir mencapai 92.133 ton.

Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dilakukan program intensifikasi, rehabilitasi dan peremajaan tanaman cengkeh secara terukur. Total areal TM diupayakan terjaga 220.000 – 230.000 ha di 10 propinsi sentra produksi cengkeh PRK (pabrik rokok kretek), dengan maksimum total areal 250.000 ha, termasuk di luar propinsi PRK. Semuanya itu diarahkan untuk keseimbangan pasokan dan permintaan, guna memenuhi kebutuhan 92 133 ton untuk rokok kretek (GAPPRI, 2005), serta harga yang tetap menguntungkan petani.

Untuk itu lima tahun ke depan seyogyanya dapat dilaksanakan program intensifikasi dan rehabilitasi seluas 70 000 ha serta replanting (peremajaan) seluas 35 000 ha. Pelaksanaannya dibatasi di 10 propinsi PRK dengan kualifikasi daerah sangat sesuai (C1). Adanya kemungkinan peningkatan kebutuhan sesuai prediksi GAPPRI sebesar 5 %/tahun diharapkan dapat terpenuhi oleh kelebihan areal dari 230 000 ha yang ada diluar ke-10 propinsi PRK. Kelebihan tersebut termasuk untuk kemungkinan ekspor dan diversifikasi hasil untuk keperluan industri makanan, farmasi dan pestisida nabati.

Total biaya yang diperlukan untuk itu adalah Rp. 1,037 trilyun yang terdiri dari investasi masyarakat Rp. 767.532 milyar, investasi swasta Rp. 184,020 milyar, dan investasi pemerintah untuk fasilitasi pengadaan infra struktur serta dukungan penelitian pengadaan benih unggul dan sebagainya sebesar Rp 85,5 milyar.

Pada dasarnya agribisnis cengkeh sangat menguntung kan. Apalagi dengan adanya peluang pengembangan industri hilir untuk keperluan makanan, farmasi dan pestisida nabati, termasuk ekspor. Pihak swasta diharapkan dapat ikut investasi dalam agribisnis cengkeh yang meliputi agribisnis hulu dalam penangkaran benih, sektor “on farm” pendirian perkebunan besar (PBS) dalam rangka peremajaan (replanting) serta agribisnis hilir di bidang industri penyulingan minyak, industri makanan dan farmasi serta pengolahan pestisida nabati cengkeh. Kegiatan “on farm” dalam bentuk pendirian perkebunan besar cengkeh dalam rangka peremajaan mengganti tanaman tua mampu memberikan B/C sebesar 1.54 dengan IRR 21.20%. Sedangkan untuk usaha industri penyulingan minyak pada tingkat bunga modal 18 % mampu memberikan B/C 1.26 dengan IRR 23 %.

Dukungan kebijakan pemerintah yang diperlukan adalah pemberdayaan penyuluhan dan organisasi kelompok tani untuk memprioritaskan pengembangan cengkeh hanya di daerah sentra produksi cengkeh untuk PRK. Pengembangan di luar 10 propinsi PRK diserahkan pada swadaya masyarakat dan dapat digunakan untuk mengantisipasi (bumper) kenaikan permintaan sesuai perkiraan GAPPRI, memenuhi kebutuhan ekspor dan diversifikasi untuk produksi minyak cengkeh, eugenol dan pestisida nabati. Dukungan pemerintah juga diperlukan untuk akses pembiayaan bagi UKM, stabilisasi harga dan kemudahan bagi swasta untuk ikut berinvestasi.

Budidaya Pepaya


PEPAYA
(Cacarica papaya, L)

1. SEJARAH SINGKAT

Pepaya merupakan tanaman buah berupa herba dari famili Caricaceae yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat bahkan kawasan sekitar Mexsiko dan Coasta Rica. Tanaman pepaya banyak ditanam orang, baik di daeah tropis maupun sub tropis. di daerah-daerah basah dan kering atau di daerah-daerah dataran dan pegunungan (sampai 1000 m dpl). Buah pepaya merupakan buah meja bermutu dan bergizi yang tinggi.

2. JENIS TANAMAN

1) Pepaya Jantan

Pohon pepaya ini memiliki bunga majemuk yang bertangkai panjang dan bercabang-cabang. Bunga pertama terdapat pada pangkal tangkai. Ciri-ciri bunga jantan ialah putih/bakal buah yang rundimeter yang tidak berkepala, benang sari tersusun dengan sempurna.

2) Pepaya Betina

Pepaya ini memiliki bunga majemuk artinya pada satu tangkai bunga terdapat beberapa bunga. Tangkai bunganya sangat pendek dan terdapat bunga betina kecil dan besar. Bunga yang besar akan menjadi buah. Memiliki bakal buah yang sempurna, tetapi tidak mempunyai benang sari, biasanya terus berbunga sepanjang tahun.

3) Pepaya Sempurna

Memiliki bunga yang sempurna susunannya, bakal buah dan benang sari dapat melakukan penyerbukan sendiri maka dapat ditanam sendirian. Terdapat 3 jenis pepaya sempurna, yaitu:

  1. Berbenang sari 5 dan bakal buah bulat.
  2. Berbenang sari 10 dan bakal buah lonjong.
  3. Berbenang sari 2 – 10 dan bakal buah mengkerut.

Pepaya sempurna mempunyai 2 golongan:

  1. Yang dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun.
  2. Yang berbuah musiman.

Jenis pepaya yang banyak dikenal orang di Indonesia, yaitu:

  1. Pepaya semangka, memiliki daging buah berwarna merah semangka, rasanya manis.
  2. Pepaya burung, warna daging buah kuning, harum baunya dan rasanya manis-asam.

3. MANFAAT TANAMAN

  1. Buah masak yang populer sebagai “buah meja”, selain untuk pencuci mulut juga sebagai pensuplai nutrisi/gizi terutama vitamin A dan C. Buah pepaya masak yang mudah rusak perlu diolah dijadikan makanan seperti sari pepaya, dodol pepaya. Dalam industri makanan buah pepaya sering dijadikan bahan baku pembuatan (pencampur) saus tomat yakni untuk penambah cita rasa, warna dan kadar vitamin.
  2. Dalam industri makanan, akarnya dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit ginjal dan kandung kencing.
  3. Daunnya sebagai obat penyembuh penyakit malaria, kejang perut dan sakit panas. Bahkan daun mudanya enak dilalap dan untuk menambah nafsu makan, serta dapat menyembuhkan penyakit beri-beri dan untuk menyusun ransum ayam.
  4. Batang buah muda dan daunnya mengandung getah putih yang berisikan enzim pemecah protein yang disebut “papaine” sehingga dapat melunakan daging untuk bahan kosmetik dan digunakan pada industri minuman (penjernih), industri farmasi dan textil.
  5. Bunga pepaya yang berwarna putih dapat dirangkai dan digunakan sebagai “bunga kalung” pengganti bunga melati atau sering dibuat urap. Batangnya dapat dijadikan pencampur makanan ternak melalui proses pengirisan dan pengeringanu.

4. SENTRA PENANAMAN

Di Indonesia tanaman pepaya tersebar dimana-mana bahkan telah menjadi tanaman perkarangan. Senrta penanaman buah pepaya di Indonesia adalah daerah Jawa barat (kabupaten Sukabumi), Jawa Timur (kabupaten Malang), Pasar Induk Kramat Jati DKI, Yogyakarta (Sleman), Lampung Tengah, Sulawesi Selatan (Toraja), Sulawesi Utara (Manado).

5. SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

  1. Angin diperlukan untukpenyerbukan bunga. Angin yang tidakterlalu kencang sangat cocok bagi pertumbuhan tanaman.
  2. Tanaman pepaya tumbuh subur pada daerah yang memilki curah hujan 1000-2000 mm/tahun.
  3. Suhu udara optimum 22-26 derajat C.
  4. Kelembaban udara sekitar 40%.

5.2. Media Tanam

  1. Tanah yang baik untuk tanaman pepaya adalah tanah ynag subur dan banyak mengandung humus. Tanah itu harus banyak menahan air dan gembur.
  2. Derajat keasaman tanah ( pH tanah) yang ideal adalah netral dengan pH 6-7.
  3. Kandungan air dalam tanah merupakan syarat penting dalam kehidupan tanaman ini. Air menggenang dapat mengundang penyakit jamur perusak akar hingga tanaman layu (mati). Apabila kekeringan air, nama tamanan akan kurus, daun, bunga dan buah rontok. Tinggi air yang ideal tidak lebih dalam daripada 50–150 cm dari permukaan tanah.

5.3. Ketinggian Tempat

Pepaya dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 700 m–1000 m dpl.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

  1. Persyaratan Bibit/Benih : Sebagai bibit dipergunakan biji, meskipun pohon pepaya dapat di okulasi. Untuk memperoleh biji bakal bibit yang baik dan murni dilakukan melalui pembijian sendiri dengan jalan perkawinan buatan. Cara perkawinan buatan ada 2 yaitu:
    1. Bunga-bunga dari tanaman betina ambil yang besar, dibungkus dengan kertas plastik selama 2 hari, sebelumnya bunga-bunga betina membuka. Pada waktu bunga-bunga itu membuka lakukan penyerbukan dengan bungan-bunga jantan yang di kepyok-kepyokan di atas bunga betina. Perkawinan di lakukan hingga 3 kali
    2. Cari pepaya yang berbunga dan berbuah terus menerus pilihlah bunga elongata yang terbesar yang hampir mekar dan terletak pada ujung tangkai Kemudian bunga tersebut dibungkus dengan kantung agar tidak diserbuki secara alami oleh bunga lain selama 10 hari. Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh. Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.
  2. Penyiapan Benih : Kebutuhan benih perhektar 60 gram (…. 2000 tanaman). Benih direndam dalam larutan fungisida benomyl dan thiram ( Benlate T) 0,5 gram/liter kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 29 gram curater/petrofar. Biji-biji yang sudah dikeringkan, jika hendak ditanam harus diuji terlebih dahulu. Caranya biji-biji, yang ditangguhkan dipergunakan sebagai bibit.
  3. Teknik Penyemaian Benih : Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam. Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan kekebun.
  4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian : Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5-10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam.
  5. Pemindahan Bibit : Bibit-bibit yang sudah dewasa, siktar umur 2-3 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.

2) Pembentukan Bedengan

Bentuk bedengan berukuran lebar 200-250 cm, tinggi 20-30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm. Buat lobang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.

3) Pengapuran

Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5), setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg dolomit dan biarkan 1-2 minggu.

4) Pemupukan

Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang telah matang.

6.3. Teknik Penanaman

1) Pembuatan Lubang Tanam

Untuk biji yang disemai, sebelum bibit ditanamkan bibit, terlebih dahulu harus dibuatkan lubang tanaman. Lubang-lubang berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali secara berbaris. Selama lubang-lubang dibiarkan kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri dengan pupuk kandang 2-3 blek. Lubang-lubang yang ditutupi gundukan tanah yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman. Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang-lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.

2) Cara Penanaman

Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

  1. Penjarangan dan Penyulaman : Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.
  2. Penyiangan : Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.
  3. Pembubunan : Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan dan berapa kalli kebun tersebut harus didangiri tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.
  4. Pemupukan : Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah. Cara pemberian pupuk:
    1. Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.
    2. Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl.
    3. Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl.
    4. Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl.
  5. Pengairan dan Penyiraman : Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

  1. Kutu tanaman (Aphid).
    • Ciri: badan halus panjang 2-3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut.
    • Pemberantasan: tungau tungau daun diberantas dengan penyemprotan tepung derris atau tepung belerang.

7.2. Penyakit

Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, roboh semai, busuk buah,leher akar, pangkal batangdan nematoda. Penyaklit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytphthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya.

Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita. Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.

8.2. Cara Panen

Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan denggan menggunakan “songgo” (berupa bambu yang pada ujungnya berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak jatuh pada saat dipetik).

8.3. Periode Panen

Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.

8.4. Prakiraan Produksi

Tiap pohon kira-kira dapat menghasilkan 30 buah, bahkan sampai 150 buah. Setelah panen pertama, pohon pepaya akan terus menerus berbuah. Tetapi sebaiknya sesudah 4 tahun kebun itu harus dibongkar.

9. PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Setelah dipanen buah diletakan disuatu tempat yang cukup, dekat dari lokasi dan diberi alas plastik/ koran atau apa saja hingga buah terhindar dari kerusakan.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan

Pilihlah buah secara selektif, perhatikan bentuk, warna dan ukuran. Tempatkan buah pada kelompoknya masing-masing, misalnya: kelompok A adalah buah yang belum masak, kelompok B buah yang sudah siap dimasak, kelompok C buah yang cacat dan seterusnya. Sehingga akan mempermudah mengklasifikasikan.

9.3. Penyimpanan

Supaya buah itu matang petani perlu melakukan pengemposan (buah disimpan ditempat yang mempunyai suhu yang tinggi).

9.4. Pengemasan dan Pengangkutan

Biasanya buah dikemas dengan keranjang dalam jumlah banyak yang dilapisi kertas/kantong bekas semen untuk menghindari luka pada buah /pada peti yang juga dilapisi dengan kantong semen dan sejenisnya, setelah itu dimasukan kedalam truk untuk diangkut.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Analisis budidaya pepaya selama masa tanam 4 tahun dengan luas lahan 1 hektar di daerah Bogor tahun 1999.

  1. Biaya produksi
    1. Sewa lahan 1 ha selama 4 tahun Rp. 8.000.000,-
    2. Bibit 2.000 pohon @ Rp. 300,- Rp. 600.000,-
    3. Pupuk
      • Pupuk kandang 500 karung @ Rp. 1.500,-
        • Tahun ke-1 Rp. 750.000,-
        • Tahun ke-2 s/d ke-4 @ Rp. 3.000.000,- Rp. 9.000.000,-
      • NPK 2000 pohon @ Rp. 4.000,-
        • Tahun ke-1 Rp. 240.000,-
        • Tahun ke-2 s/d ke-4 @ Rp. 8.000.000,- Rp. 24.000.000,-
      • Tatal Tanduk 2.000 kg @ Rp. 400,-
        • Tahun ke-3 dan ke-4 @ Rp. 800.000,- Rp. 1.600.000,-
      • Pengangkutan tahun ke 1 s/d ke-4 @ Rp. 70.000,- Rp.. 280.000,-
    4. Pestisida
      • Dithene 2 liter/tahun @ Rp. 88.600,- Rp. 708.800,-
    5. Peralatan
      • Cangkul 5 buah @ Rp. 10.000,- Rp. 50.000,-
      • Koret 5 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 25.000,-
      • Arit 5 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 25.000,-
    6. Pemeliharaan
      • Pemupukan 10 HKP/tahun @ Rp. 7.500,- Rp. 300.000,-
      • Pengendalian HPT 4 HKP/tahun @ Rp. 7.500,- Rp. 120.000,-
      • Penyiangan rumput 30 HKW /tahun @ Rp. 5000,- Rp. 600.000,-
      • Pembubunan 50 HKP/tahun, @ Rp. 7.500,- (th ke-2s/d ke4) Rp. 1.125.000,-
    7. Tenaga kerja
      • Pengolahan lahan 30 HKP @ Rp. 7.500,- Rp. 225.000,-
      • Pembuatan lubang tanam 200 HKP @ Rp. 7.500,- Rp. 1.500.000,-
      • Penanaman 10 HKP @ Rp. 7.500,- Rp. 75.000,-
      • Lain-lain 10 HKP/tahun @ Rp. 7.500,- Rp. 300.000,-
    8. Panen dan pascapanen
      • Panen 75 HKP. @ Rp. 7.500,-
        • Tahun Ke-1 Rp. 45.000,-
        • Tahun ke-2 s/d ke-4 @ Rp. 562.500,- Rp. 2.250.000,-
      • Biaya lain @ Rp. 150.000,-/tahun Rp. 600.000,-
      • Total biaya produksi Rp. 52.418.800,-
  2. Pendapatan
    1. Tahun ke-1, 6.000 kg @ Rp. 700,- Rp. 4.200.000,-
    2. Tahun ke-2, 45.000 kg @ Rp. 700,- Rp. 31.500.000,-
    3. Tahun ke-3, 45.000 kg @ Rp. 700,- Rp. 31.500.000,-
    4. Tahun ke-4, 45.000 kg @ Rp. 700,- Rp. 31.500.000,-
    • Total Pendapatan selama 4 tahun Rp. 98.700.000,-
  3. Keuntungan
    1. Keuntungan selama 4 tahun Rp. 46.281.200,-
    2. Keuntungan rata-rata per tahun Rp. 11.570.300,-
  4. Parameter kelayakan usaha 1. B/C ratio = 1,88

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Selama periode 1989-1991, ekspor pepaya Indonesia masih berfluktuasi. Prospek ekspor pepaya ke pasar dunia sesungguhnya cukup cerah, terutama untuk melayani permintaan Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Swedia, yang mencapai 1000 ton per tahun.

11. STANDAR PRODUKSI

11.1. Ruang Lingkup

Standar ini meliputi diskripsi, klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, cara pengemasan.

11.2. Diskripsi

Standar buah pepaya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia SNI 01–4230– 1996.

11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu

Pepaya malang segar digolongkan dalam 4 ukuran yaitu kelas A, B, C dan D berdasarkan berat tiap buah, yang masing masing digolongkan dalam 3 jenis mutu.

  • Kelas A : Berat per buah 2,5 kg – 3,0 kg
  • Kelas B : Berat per buah 1,8 kg – 2,4 kg
  • Kelas C : Berat per buah 1,5 kg – 1,7 kg Kelas
  • D : Berat per buah < 1,5 kg atau > 3 kg

Kriteria dalam menentukan jenis mutu buah pepaya Malang segar dinilai dari tingkat ketuaan dimana jumlah strip berwarna jingga pada permukaan kulit buah yang berwarna hijau botol saat dipanen, kebenaran kultivar. Keseragaman ukuran berat, tingkat kerusakan, kebusukan dan kadar kotoran serta tingkat kesegaran.

  1. Tingkat ketuaan warna kulit (jumlah strip warna jingga): Mutu I 3 strip, Mutu II 2-3 strip, Mutu III 1 strip.
  2. Kebenaran kulrivar : mutu I benar 97%, mutu II benar 95% , Mutu III benar 90%
  3. Keseragaman ukuran berat: mutu I seragam 97%, mutu II seragam 95%, mutu III seragam 90%.
  4. Keseragaman ukuran bentuk: mutu I seragam 97%, mutu II seragam 95%, mutu III seragam 90%.
  5. Buah cacat dan busuk : mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%
  6. Kadar kotor: mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%
  7. Serangga hidup/mati: mutu I 0%, mutu II 0%, mutu III 0%.
  8. Tingkat kesegaran: mutu I segar 100%, mutu II segar < 25%, mutu III segar > 25%

11.4. Pengambilan Contoh

Satu partai buah Pepaya Malang Segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan, contoh diambil secara acak.

  1. Jumlah kemasan dalam partai/lot 1 s/d 5: contoh yang diambil semua
  2. Jumlah kemasan dalam partai/lot 6 s/d 100: contoh yang diambil sekurang-kurangnya 5
  3. Jumlah kemasan dalam partai/lot 101 s/d 300: contoh yang diambil sekurang-kurangnya 7
  4. Jumlah kemasan dalam partai/lot 301 s/d 500: contoh yang diambil sekurang-kurangnya 9
  5. Jumlah kemasan dalam partai/lot 501 s/d 1000: contoh yang diambil sekurang-kurangnya 10

Dari kemasan yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya 3 buah pepaya kemudian dicampur. Dari jumlah buah yang terkumpul kemudian diambil secara acak contoh sekurang-kurangnya 5 buah untuk diuji. Petugas pengambil contoh adalah orang yang telah berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

11.5. Pengemasan

Untuk pasaran ekspor masing-masing buah Pepaya Malang Segar dibungkus dengan kantong terbuat dari bahan yang empuk untuk mengcegah cacat karena benturan selama transportasi. Buah kemudian dikemas ke dalam kotak karton dengan ujung tangkai menghadap kebawah. Berat bersih masing-masing kemasan 10 kg berisikan ± 4 s/d 6 buah Pepaya Malang segar. Untuk pasaran lokal masing-masing buah pepaya malang segar dibungkus dengan kertas koran mulai dari ujung tangkai dikemas dalam keranjang bambu atau plastik dengan berat masing-masing 30 kg berisikan 12 s/d 20 buah Papaya Malang Segar. Dapat juga digunakan peti kayu.

12. DAFTAR PUSTAKA

  1. AAK. 1975. Bertanam Pohon Buah-Buahan. Yogyakarta : Kanisius.
  2. Suwarno. Pengaruh Cahaya dan Perlakuan Benih Terhadap Perkecambahan Benih Pepaya. Dalam Buletin Agricultural Vol. XV No. 3
  3. Tohir, Kaslan A. 1978. Bercocok Tanam Pohon Buah-Buahan. Jakarta : Pradnya Paramita.

Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS

Cara Menanam Pohon Pisang , dll


Pisang Terbaru

Pembeli ada dua pilihan:

1. Beli anak pisang yang kecil yang dijual dalam tabung uji dan membelanya secara sendiri dalam polibag hingga besar
2. Atau, beli pokok yang siap sedia dalam polibag untuk ditanam di pusat semaian tertentu.

Penanaman

Jika membeli terus dalam bentuk anak pisang dalam tabung uji, ikutlah peraturan di bawah.

a) keluarkan anak pisang yang kecil daripada botol dan bersihkan dengan teliti agar-agar yang melekat di bahagian akar anak pokok tersebut.

b) Pindahkan anak pisang yang telah dibersihkan ke dalam polibag berukuran 6″ X 8″ mengandungi tanah dan sabut kelapa, baja N:P:K (15:15:15) dan kompos. Letakkan polibag di bawah teduhan 70 %.

Pengairan

Siram air 3 kali sehari dalam 2 minggu pertama kemudian selepas tempoh ini, 2 kali sehari sehingga ditanam di ladang.

Jarak Penanaman

Tanam pada ketumpatan 2200 pokok/hektar dan jarak 1.5 meter di antara pokok dalam satu baris dan 3.0 meter di antara barisan.

Pengendalian Penyakit Layu Pada Tanaman Pisang

Tanaman pisang mudah tumbuh di berbagai tempat, penanaman yang dilakukan oleh petani belum teratur dan sering dicampur dengan tanaman lainnya. Selain itu pemeliharaan tanaman pisang belum dilakukan secara intensif, sehingga produksi dan mutu buah yang dihasilkan masih rendah.

Jenis Penyakit

a. Penyakit Layu Fusarium (Penyakit Panama)

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium oxysparum f. sp. cubense. Jamur penyebab penyakit ini hidup didalam tanah, masuk ke dalam akar, selanjutnya masuk ke dalam bonggol dan jaringan pembuluh.

Gejala dari penyakit ini adalah sepanjang jaringan pembuluh pada batang semu berwarna coklat kemerahan. Daun menguning dan menjadi layu, tangkainya menjadi terkulai dan patah. Kadang-kadang lapisan luar batang semu terbelah dari bawah ke atas. Yang paling khas adalah jika pangkal batang dibelah membujur, terlihat garis-garis coklat atau hitam dari bonggol ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal dan tangkai daun. Penularan penyakit ini dapat melalui bibit, tanah dan air yang mengalir mengandung spora jamur.

b. Penyakit Layu Bakteri (Penyakit Darah atau Penyakit Moko)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Solanacearum. Disebut penyakit darah, karena bila akar tinggal/bonggol tanaman sakit dipotong maka keluar cairan kental yang berwarna kemerahan dari berkas pembuluh. Gejala penyakit layu bakteri pada tanaman pisang adalah layunya daun-daun tua sebelum waktunya, daun menguning dan mati, pada tanaman muda terjadi kelayuan yang menyeluruh. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui bibit terinfeksi, serangga yang mengunjungi bunga, alat-alat pemangkasan dan kontak akar.

c. Pengendalian Penyakit Layu

  • menanam bibit pisang yang sehat
  • melakukan pemupukan yang seimbang
  • sanitasidan drainase kebun yang baik agar waktu hujan, air tidak mengalir di permukaan tanah
  • memelihara tanaman dengan hati-hati untuk mengurangi terjadinya luka pada akar.
  • untuk mencegah penularan oleh serangga melalui luka pada bunga yang rontok, maka dapat dilakukan pemotongan jantung.

BINATANG PEROSAK

Binatang perosak yang seringkali menyerang pokok pisang ialah bubuk atau kumbang. Masalah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan racun serangga seperti dieldrin.

Penyakit Anthracnose

Gejala ini berlaku apabila bintik-bintik telah muncul dan menyerang buah pisang yang sedang dalam penghantaran dengan menggunakan kapal.

Penyakit Darah Pisang

PENDAHULUAN

Komoditas hortikultura selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan petani. Perkembangan komoditas hortikultura di NTB akhir-akhir ini mendapat perhatian besar khusus tanaman pisang karena tanaman ini banyak memberikan manfaat diantaranya pemenuhan gizi keluarga dan penambahan pendapatan petani. Pisang termasuk salah satu jenis buah buahan yang cukup potensial di NTB, populasinya cukup besar. Selain itu, permintaan domestik cukup meningkat karena pertumbuhan penduduk, kesadaran masyarakat terhadap gizi,
peningkatan pendapatan dan pendidikan serta berkembangnya NTB menjadi daerah wisata nasional maupun internasional. Dua tahun terakhir perkembangan tanaman pisang di NTB mengalami penurunan terutama diakibatkan adanya serangan penyakit, yang disebabkan oleh bakteri. Ferken (1972) mengidentifikasikan penyakit darah pisang disebabkan oleh bakteri (Pseudomonas solanacearum).

CARA MENULAR

Bakteri Pseudomonas solanacearum ini dapat ditularkan ke tanaman sehat melalui : tanaman, alat-alat pertanian, tanah yang terbawa alat-alat transportasi, aliran air dan vektor serangga yang menghisap bunga (jantung) pisang. Berdasarkan pemantauan di lapangan, penyakit darah pisang sudah menyebar ke seluruh sentra pertanaman pisang di pulau Lombok dan Sumbawa. Hasil penelitian Sudirman (2000) tentang penyakit darah pisang (Pseudomonas solanacearum) menyatakan bahwa dari sepuluh jenis tanaman pisang yang diuji, pisang kepok dan pisang raja sangat peka (tidak tahan), sedangkan pisang emas lebih tahan. Pisang ketip, pisang susu, pisang hijau, pisang kapal dan pisang ambon bereaksi tidak konsisten.

TANDA SERANGAN

Penyakit Darah Pisang (Pseudomonas solanacearum) kebanyakan mulai menunjukkan tanda serangan pada tanaman yang sudah berbuah, sedang pada tanaman yang masih muda belum menampakkan tanda serangan yang jelas.

1. Pada tanaman dewasa (tanaman pisang yang sudah berbuah) tanda serangan dapat dilihat pada daun ketiga atau keempat dari atas (pucuk) yang mulai menguning serta disusul dengan daun berikutnya lalu mengering. Akibat dari semua daun menguning, maka pertumbuhan buah tidak sempurna.

2. Apabila buah-buah pisang tersebut di potong atau di belah terlihat adanya cairan atau getah kental berwarna coklat kemerahan yang berbau busuk.

3. Pada bagian dalam bungkul dan batang pisang yang sudah terkena penyakit, apabila dipotong bagian tengah terlihat bintik-bintik berwarna coklat kemerahan. Akhirnya berlanjut tanaman pisang akan menjadi kering dan mati.

UPAYA PENGENDALIAN

Ada beberapa upaya yang bisa dilaksanakan pada tingkat serangan tertentu sebagai berikut:

1. Perketat Karantina

Buah pisang dapat diangkut ke mana-mana untuk tidak terjadi serangan (menular) pada lokasi lain, perlu di perketat pengawasan lalu lintas perdagangan pisang, apakah pisang tersebut berasal dari daerah yang sudah terserang, perlu dilarang memasukkan ke daerah yang belum terserang penyakit tersebut.

2. Sanitasi

Sanitasi sangat penting bagi petani yang mempunyai areal tanaman pisang, agar diperhatikan lingkungan kebun pisang agar selalu bersih, jangan sembarangan menempatkan batang-batang pisang yang sudah di tebang. Dan buat parit di sekitar barisan pisang, sehingga tidak tergenang apabila ada air hujan. Terapkan sistem drainase yang baik. Buat parit disekitar barisan tanaman pisang, sehingga tidak tergenang apabila ada air hujan.

3. Desinfektan peralatan

Peralatan yang akan dipergunakan harus disteril/dibersihkan dulu.

4. Pemupukan

Pemupukan dengan bahan organik akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme antagonis untuk membunuh bakteri perusak.

5. Isolasi spot

Apabila tanaman pisang sedang/akan keluar bunga dilakukan proteksi terhadap bunga tanaman pisang dari vektor serangga yaitu : di bungkus dengan kain, kertas agar tidak di kunjungi oleh serangga penular sampai selesai pembungaan.

6. Eradikasi

Apabila sudah terjadi serangan berat pada tanaman pisang, diadakan pemusnahan (menebang semua pisang yang ada pada lahan tersebut, dan diganti dengan tanaman pisang yang tahan terhadap penyakit darah pisang (Pseudomonas solanacearum).

Sumber : harizamrry

  • Halaman

  • June 2017
    M T W T F S S
    « Apr    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • RSS 20 Newest Free

  • RSS Brothersoft

  • RSS New Software

  • AntiVirus

  • Status Anda

    IP
  • Pengunjung

    free counters
  • Blog Stats

    • 338,386 hits
  • Add to Google Reader or Homepage Subscribe in NewsGator Online Add to netvibes Subscribe in Bloglines Add to fwicki Add to Webwag Powered by FeedBurner

  • Friends Link

  • RSS Kompas

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS Lowongan Kerja Terbaru 2013

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Info Tentang AQ

  • Meta

  • %d bloggers like this: