Intensifikasi Pertanian Lahan Kering


I. PENDAHULUAN

Tanah sebagai lahan pertanian merupakan salah satu unsur produksi yang turut menentukan keberhasilan suatu usaha tani. Selain untuk usahatani, tanah juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti untuk perkampungan, perkotaan, perumahan, perkantoran, jalan dan sebagainya. Karena itu tanah mempunyai nilai dan peranan yang dinamis bagi keperluan hidup manusia.

Sumberdaya tanah di Indonesia tersebar di kepulauan Nusantara dan sebagian besar merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk keperluan pertanian. Potensi lahan kering tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung dari berbagai faktor antara lain : topografi/bentuk wilayah, geologi dan keadaan tanah, iklim (suhu, curah hujan, angin dan penyinaran), keadaan sumberdaya air dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Adanya perbedaan potensi itu menyebabkan pula perlunya pemilihan jenis usaha tani dan macam teknologi yang sesuai dengan potensi lahan kering tersebut.
pada waktu hujan deras. Aliran ini akan mengikis dan menghanyutkan lapisan tanah bagian atas yang relatif lebih subur, sehingga tanah di tempat itu makin lama makin tandus. Pada tingkat kerusakan yang cukup parah, akhirnya tanah tidak dapat lagi berfungsi sebagai unsur produksi seperti yang diharapkan.

Usaha-usaha konservasi yang dapat dilakukan antara lain dengan membangun teras (sengkedan/pe-matang) dan saluran pembuangan air, menanam tanaman penguat teras, mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah atau dapat pula menanam pohon sebagai tegakan tetap pada lahan kering yang miring.

Untuk mengurangi resiko kegagalan berusahatani di lahan kering, sangat dianjurkan melakukan pola aneka usahatani secara terpadu. Misalnya pada luas lahan tertentu diusahakan tanaman semusim, tanaman perkebunan, tanaman makanan ternak dan dibarengi memelihara ternak. Pemilihan jenis usahatani ini disesuaikan»dengan iklim setempat, keinginan para petani serta berbagai aspek dalam pemasaran hasilnya.

A. PENGERTIAN

Beberapa pendapat tentang pengertian intensifikasi pertanian dan lahan kering cukup banyak dike-mukakan oleh para akhli pertanian. Oleh karena itu dalam brosur ini hanya akan dikemukakan pengertian intensifikasi pertanian lahan kering secara terbatas dan ditujukan untuk daerah lahan kering dengan penduduk cukup padat.

Intensifikasi pertanian dapat diartikan sebagai usaha peningkatan dan penggiatan pemanfaatan berbagai macam sarana produksi pertanian secara ekonomis pada suatu luasan lahan tertentu yang disertai melakukan usaha konservasi sumberdaya alam. Tujuannya adalah untuk memperoleh produksi yang tinggi dengan tambahan hasil yang selalu menguntungkan.

Lahan kering diartikan sebagai sebidang tanah yang dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain :
— peka terhadap erosi, terutama bila tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi
— tingkat kesuburan tanahnya rendah
— air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah hujan
— lapisan olah dan lapisan tanah di bawahnya (top soil dan sub soil) memiliki kelembaban yang amat rendah.

Dari uraian tersebut, yang diartikan intensifikasi pertanian lahan kering di sini adalah usaha intensifikasi pertanian yang dilaksanakan pada sebidang lahan kering dengan tujuan untuk memperoleh produksi yang tinggi dan menguntungkan dengan disertai usaha-usaha konservasi tanah dan air. Pelaksanaan usaha intensifikasi pertanian tersebut akan lebih berhasil bila dilakukan di daerah yang tenaga kerja dan berbagai sarana produksi pertaniannya cukup tersedia dengan pengelolaan aneka usahatani secara terpadu.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud intensifikasi pertanian lahan kering adalah upaya pengelolaan lahan dalam rangka meningkatkan serta mendayagunakan lahan tersebut agar dapat berdayacjuna dan berhasilguna secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan sekaligus dapat melestarikan lingkungan secara berkesinambungan.

Tujuannya adalah :
1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani.
2. Meningkatkan kemampuan petani pemilik dalam usahataninya.
3. Meningkatkan produktifitas tanah, baik dalam bentuk tanaman semusim, tanaman kayu-kayuan maupun hasil lainnya.
4. Meningkatkan kelestarian tanah dan air.

C. SASARAN

Usaha intensifikasi pertanian memerlukan berbagai sarana produksi serta tenaga kerja manusia sebagai pengelola usahatani. Tanpa tersedia sarana produksi dan tenaga kerja manusia, maka usaha intensifikasi pertanian itu sulit dilakukan. Oleh sebab itu yang menjadi sasaran lokasi usaha intensifikasi pertanian di sini adalah lahan kering tadah hujan milik rakyat yang digarap untuk tanaman semusim.

III. Usaha Konservasi

Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu, kondisi lahan kering mempunyai permasalahan yang harus diatasi yaitu tingkat erosi yang tinggi, kesuburannya rendah serta jumlah air yang sangat terbatas. Karena itu pemanfaatan lahan kering untuk usahata-ni harus disertai dengan usaha konservasi tanah dan air.

Ada tiga cara pendekatan dalam usaha konservasi yaitu :
1. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar tahan terhadap bahaya erosi.
2. Melindungi tanah dari jatuhnya air hujan dengan tanaman atau sisa-sisa tanaman.
3. Memperlambat aliran air di permukaan tanah sehingga tidak merusak lahan.

Pelaksanaan dari usaha konservasi biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama membuat bangunan-bangunan sipil teKnis dan kedua secara kultur teknis atau vegetatif.

A. BANGUNAN SIPIL TEKNIS

Bangunan sipil teknis yang perlu dibuat adalah teras dan saluran pembuangan air. Fungsi bangunan tersebut yaitu 1) memperlambat aliran permukaan dan 2) menampung dan menyalurkan air aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak.

1. TERAS

Pembuatan teras bermaksud untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah.

Ada 4 macam teras yang dapat dibuat pada tanah miring, yaitu :
a. Teras uatar, biasanya dibuat pada tempat-tempat dengan curah hujan yang rendah, kemi ringan tanahnya paling besar 3% dan mudah menyerap air.
b. Teras kredit, umumnya diterapkan pada tempat-tempat yang tanahnya sulit menyerap air kemiringan tanahnya 3 – 10% dan curah hujannya tinggi. Tujuannya, terutama ialah untuk mempertahankan kesuburan tanah.
c. Teras guludan, dibuat pada tempat-tempat dengan kemiringan tanah 10 — 50% dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air di sepanjang bagian atas guludan. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang mengalir bila turun hujaa, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air ke dalam tanah dapat diperbesar.
d. Teras bangku, dibuat pada tanah-tanah dengan kemiringan 10 – 30%. Teras bangku memiliki bidang olah yang dibuat miring 1% ke-arah dalam serta dilengkapi dengan saluran air yang letaknya di sebelah dalam bidang olah teras.

2. SALURAN PEMBUANGAN AIR

Saluran pembuangan air merupakan bagian yang harus ada bila teras guludan atau teras bangku dibuat pada tanah miring. Pembuatannya dengan arah memotong garis kontur. Bila keadaan memungkinkan saluran pembuangan air ini ditempatkan pada saluran alam yang ada.

Pada saluran pembuangan air biasanya dibuatkan bangunan terjuhan secara bertingkat, mulai dari bagian atas sampai ke bagian terbawah dengan permukaan yang datar. Deretan bangunan terjunan ini berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terbentuknya jurang-jurang yang dalam pada saluran pembuangan. Bangunan terjunan dapat dibuat dari bambu atau batu kali.

B. KULTUR TEKNIS

Usaha konservasi secara kultur teknis atau vegetatif berarti melakukan konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk 1) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, 2) melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan, dan 3) memperbaiki penyerapan air oleh tanah.

Jenis tanaman untuk konservasi sebaiknya dipilih tanaman yang dapat berfungsi ganda, produksinya dapat dimanfaatkan oleh manusia atau hewan dan tanamannya baik untuk konservasi tanah dan air.

Beberapa cara melakukan konservasi secara kultur teknis adalah :

1. Penanaman tanaman penutup tanah.

Tanaman pentutup tanah berfungsi untuk mencegah erosi, menambah bahan organik tanah dan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air hujan yang jatuh.

Ada tiga jenis tanaman penutup tanah yang penting yaitu :

a. Tanaman penutup tanah rendah, seperti Colopogonium mucnnoides Desv, Centrosema pubescens Benth, Ageratum conizoides L (Babadotan) dan beberapa jenis rumput-rumputan misalnya akar wangi, rumput gajah dan rumput benggala.
b. Tanaman penutup tanah sedang, berupa semak seperti; beberapa tanaman leguminosa (kacang-Kacangan; yaitu Crotalaria anagyroides, C. juncea L, dan C. striata.
c. Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung,seperti Albizzia falcata Backer dan Leucaena leucocephala (lamtoro gung).

2. Penanaman rumput makanan ternak.

Beberapa rumput makanan ternak baik ditanam pada lahan kering untuk konservasi tanah dan air. Bila lahan kering tersebut datar, rumput dapat ditanam tersendiri atau sebagai sisipan diantara tanaman lainnya.

Untuk tanah miring yang berteras, rumput tersebut bisa ditanam pada bagian tepi teras atau pada tampingan teras.

Contoh rumput makanan ternak yang baik ditanam antara lain rumput gajah, rumput benggala, rumput signal (Brachiaria decumbens Staph) dan rumput setaria (Setaria sphacelata).

3. Penanaman dalam jalur

Penanaman dalam jalur (strip cropping) adalah suatu sistem bercocok tanam dengan cara beberapa jenis tanaman ditanam dalam jalur-jalur yang berselang-seling pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut kontur. Biasanya tanaman yang dipergunakan adalah tanaman pangan atau tanaman semusim yang biasa ditanam berbaris diselingi dengan jalur-jalur tanaman yang tumbuh rapat berupa tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah.

Dalam sistim ini semua pekerjaan pengolahan tanah dilakukan searah dengan jalur, melaksanakan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman.

4. Pergiliran tanaman.

Cara penting lainnya untuk konservasi tanah dan air ialah dengan pergiliran tanaman, yaitu sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah.

Pada lahan kering yang berlereng atau tanahnya miring, pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah antara tanaman penghasil bahan pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau.

Selain mencegah erosi, keuntungan lain dari pergiliran tanaman adalah :
— memberantas hama dan penyakit tanaman melalui pemutusan siklus hidupnya.
— memberantas tumbuhan pengganggu/gulma.
— mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah.

5. Penggunaan sisa-sisa tanaman.

Salah satu cara menambah unsur hara tanah yaitu dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah. Pembenaman sisa tanaman dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara keseimbangan unsur hara tanah

Selain dibenamkan ke dalam tanah, sisa-sisa tanaman dapat pula diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulch) yang dapat mempertahankan kelembaban tanah.

Dengan mulching penguapan air tanah dapat diperkecil, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat tetap hidup.

6. Penanaman tanaman penguat teras.

Tanaman penguat teras dapat dipilih jenisnya sesuai dengan keinginan para petani. Bentuk tanaman penguat teras ini dapat berupa pohon-pohon atau rumput-rumputan.

Tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah sebagai berikut :
— mempunyai sistem perakaran intensif sehingga mampu mengikat tanah.
— tahan pangkas, supaya tidak menaungi tanaman utama.
— bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak.

Contoh tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtoro gung, kaliandra, gamal, akasia, rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria.

IV. Usaha Peningkatan Produksi

Pada prinsipnya usahatani di lahan kering tidak berbeda dengan usahatani di lahan basah. Persoalannya adalah bagaimana caranya mengelola masalah air. Oleh karena itu usaha intensifikasi pertanian lahan kering harus dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air. Dengan demikian, maka produksi pertanian dapat diharapkan meningkat.

Dalam rangka peningkatan produksi pertanian di lahan kering, beberapa usaha yang perlu dilakukan adalah penggunaan varietas unggul,pengolahan tanah, menerapkan pola tanam, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman.

A. PENGGUNAAN VARITAS UNGGUL.

Untuk memperoleh hasil yang tinggi, benih atau bibit harus dari varietas yang unggul dan sesuai dengan kondisi lahan kering yang ada. Demikian pula bila anda akan memelihara ternak, pilihlah jenis ternak yang unggul sesuai dengan iklim di lahan kering.

Jenis atau varietas unggul adalah varietas yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat unggul yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim tempat varietas itu diusahakan.

Untuk tanaman, sifat-sifat unggul itu antara lain produksinya tinggi, respon terhadap pemupukan, efisien dalam pemakaian air, tahan terhadap hama dan penyakit. Sedangkan untuk ternak, sifat unggul tersebut misalnya saja banyak anak, tahan penyakit, pertumbuhan.cepat dan mudah beradaptasi.

Beberapa jenis tanaman padi dan palawija yang cocok untuk lahan kering antara lain,padi varietas IR 36, Gati dan C-22 Gama 6, Cartuna, Jagung varietas DM R 5, Harapan baru dan Bogor DM R 4, Ar juna, Parikesit, kacang tanah varietas Gajah/Kidang serta kacang uci varietas lokal, kedele varietas orba, galunggung, lokon dan guntur; kacang hijau varietas merak, bakti.

B. PENGOLAHAN TANAH

Pengolahan tanah lahan kering hendaknya dengan membuat teras yang sempurna agar kesuburan tanah dapat terpelihara. Selain itu disarankan agar

1. Tanah diolah sebaik mungkin.
2. Pengolahan tanah cukup 2 kali, yaitu sebelum dan pada awal musim hujan.
3. Jika tanahnya miring, olahlah tanah menurut kontur dan membuat teras.

C. POLA TANAM

Penerapan pola tanam pada lahan kering bermaksud agar sepanjang tahun terdapat tanaman. Dengan demikian erosi dapat diperkecil dan sekaligus lahan berproduksi. Beberapa pola tanam yang telah dikenal dan dapat diterapkan pada usaha intensifikasi pertanian lahan kering, yaitu :

1. Tumpang sari.

Pada pola tanam tumpang sari, dua atau lebih jenis tanaman ditanam dalam barisan yang teratur. Salah satu dari jenis tanaman itu merupakan tanaman utama, yakni tanaman yang hasilnya di harapkan paling banyak.

Menurut waktu tanamnya, tumpang sari ada dua macam :

a. tumpang sari sama umur (intercropping), yaitu bila waktu penanaman atau panennya hampir bersamaan.

Contoh :
— tumpang sari antara jagung dengan kedelai, kacang tanah atau dengan kacang hijau.
— tumpang sari antara padi gogo dengan jagung.

b. tumpang sari beda umur (interplanting), yaitu bila waktu penanaman atau panennya tidak bersamaan.

Contoh :
— tanaman semusim yang ditanam sebagai tanaman sela di antara tanaman tahunan.

2. Tanaman sisipan.

Pada pola ini suatu jenis tanaman ditanam di antara jenis tanaman lain yang hampir dipanen.

Contoh:
— kedelai ditanam di antara barisan tanaman jagung yang akan dipanen.

3. Tanaman beruntun.

Pada pola tanam ini suatu jenis tanaman ditanam segera sesudah jenis tanaman lain dipanen.

Contoh :
— kedelai ditanam segera sesudah jagung atau padi gogo dipanen.

4. Pola tanam kombinasi.

Pola tanam ini telah dicoba selama beberapa tahun di lahan kering daerah transmigrasi Way Abung Lampung dengan hasil yang baik. Dengan pola tanam kombinasi, maka selama waktu satu tahun ketiga macam pola tanam yang terdahulu dilaksanakan untuk paling sedikit 5 jenis tanaman yang secara ekonomis menguntungkan. Pelaksanaan dari pola tanam tersebut adalah sebagai berikut :

Tanaman pertama adalah tumpang sari jagung + padi gogo. Satu bulan setelah padi ditanam, ketela pohon/singkong disisipkan di antara barisan jagung. Kemudian setelah padi dipanen, kacang tanah ditanam pada bekas barisan padi.

Selanjutnya, kacang tunggak ditanam setelah kacang tanah dipanen.

Untuk lebih jelasnya, contoh pola tanam lahan kering Way Abung dapat dilihat pada bagan. Sedangkan untuk daerah lahan kering lainnya, pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan keadaan iklim setempat, terutama curah hujannya.


D. PEMUPUKAN

Tujuan pemupukan antara lain untuk :

1. menyediakan beberapa unsur hara sebagai penyubur tanaman, terutama berupa unsur Nitrogen (N), Fosfat (P) dan Kalium (K).
2. memperbaiki struktur dan kegemburan tanah.
3. mengurangi tingkat keasaman tanah, yaitu dengan melakukan pengapuran.

Namun pemupukan pada lahan kering tidak akan menguntungkan sebelum usaha-usaha pencegahan erosi dilaksanakan.

Ada dua jenis pupuk, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik sering disebut pupuk alam dan pupuk anorganik disebut juga pupuk buatan.

Contoh pupuk alam ialah pupuk hijau, kotoran ternak dan kompos.
Urea, TSP, ZA dan KCI adalah sebagian contoh pupuk buatan.

Daun tanaman dari berbagai jenis kacang-kacangan atau polong-polongan, baik digunakan sebagai pupuk hijau. Misalnya daun lamtoro, kaliandra dan orok-orok. Begitu pula kotoran dari berbagai macam ternak sangat baik digunakan untuk memupuk tanaman. Bila pupuk kandang dan kompos digunakan, harus dipilih yang sudah masak agar dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Jika belum masak, maka akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk alam atau pupuk buatan yang diberikan pada tanaman sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan kering tersebut serta keperluan tanaman. Waktu pemupukan yang tepat juga penting diketahui. Pemberian pupuk alam biasanya sebelum tanam, yaitu ketika mengolah tanah. Sedangkan pupuk buatan diberikan sesuai dengan tingkat pertumbuhan/umur tanaman.

Seandainya anda belum jelas akan jumlah pupuk dan waktu pemberiannya yang tepat, maka dianjurkan untuk meminta informasi lebih lanjut kepada teman anda yang lebih mengetahui

E. PERLINDUNGAN TANAMAN

Perlindungan tanaman bertujuan agar tanaman terhindar dari gangguan berbagai macam hama dan penyakit yang merugikan. Usaha perlindungan dapat berupa pencegahan maupun pemberantasan. Usaha pencegahan antara lain pemberian pestisida pada tanah setelah diolah, pemberian pestisida pada bibit-bibit tanaman serta penyemprotan tanaman secara teratur.

Sedangkan usaha pemberantasan antara lain penyemprotan hama dan penyakit yang menyerang, pencabutan tanaman yang terserang dan atau membakar tanaman yang terserang.

Untuk melindungi tanaman, berbagai racun hama/penyakit dapat digunakan. Tapi pilihlah racun yang dapat bekerja secara efektif dan sesuai untuk melindungi tanaman yang anda usahakan. Juga mengenai dosis serta waktu pemberiannya perlu diketahui dengan tepat. Untuk itu bacalah petunjuk pemakaiannya yang tertera pada label. Bila mengalami kesulitan mintalah penjelasan lebih lanjut kepada teman sekerja anda, atau Dinas Pertanian setempat.

Sumber : Adi

Bagaimana Cara Menanam Padi yang Benar


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berusaha, memenuhi kebutuhan primer yaitu makanan. Dalam sejarah hidup manusia dari tahun ketahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini dibuktikan dibeberapa daerah yang semula makanan pokoknya ketela, sagu, jagung akhimya beralih makan nasi.

Nasi merupakan salah satu bahan makanan pokok yang mudah diolah, mudah disajikan, enak dan nilai energi yang terkandung didalamnya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap kesehatan.

B. SEJARAH TANAMAN PADI

Padi termasuk genus Oryza L yang meliputi lebih kurang 25 spesies, tersebar didaerah tropik dan daerah sub tropik seperti Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Menurut Chevalier dan Neguier padi berasal dari dua benua Oryza fatua Koenig dan Oryza sativa L berasal dari benua Asia, sedangkan jenis padi lainya yaitu Oryza stapfii Roschev dan Oryza glaberima Steund berasal dari Afrika barat.

Padi yang ada sekarang ini merupakan persilangan antara Oryza officinalis dan Oryza sativa f spontania. Di Indonesia pada mulanya tanaman padi diusahakan didaerah tanah kering dengan sistim ladang, akhirnya orang berusaha memantapkan basil usahanya dengan cara mengairi daerah yang curah hujannya kurang. Tanaman padi yang dapat tumbuh dengan baik didaerah tropis ialah Indica, sedangkan Japonica banyak diusakan didaerah sub tropika.

C. ARTI PENTING DAN MANFAAT PADI BAGI KEHIDUPAN MANUSIA

Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain.

Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan yang mudah diubah menjadi energi. Oleh karena itu padi disebut juga makanan energi.

Menurut Collin Clark Papanek, nilai gizi yang diperlukan oleh setiap orang dewasa adalah 1821 calori yang apabila disetarakan dengan beras maka setiap hari diperlukan beras sebanyak 0,88 kg. Beras mengandung berbagai zat makanan antara lain: karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, abu dan vitamin. Disamping itu beras mengandung beberapa unsur mineral antara lain: kalsium, magnesium, sodium, fosphor dan lain sebagainya.

D. SYARAT TUMBUH

Tanaman padi dapat hidup baik didaerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 -2000 mm. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi 23 °C. Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman padi berkisar antara 0 -1500 m dpl.

Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jurnlah yang cukup. Padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7.

BAB II
BERCOCOK TANAM PADI

Padi dibudidayakan dengan tujuan mendapatkan hasil yang setinggi-tinginya dengan kualitas sebaik mungkin, untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan maka, tanaman yang akan ditanam harus sehat dan subur. Tanaman yang sehat ialah tanaman yang tidak terserang oleh hama dan penyakit, tidak mengalami defisiensi hara, baik unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar maupun dalam jumlah kecil. Sedangkan tanaman subur ialah tanaman yang pertumbuhan clan perkembangannya tidak terhambat, entah oleh kondisi biji atau kondisi lingkungan.
PADI SAWAH
Teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak dilakukan persemaian sampai tanaman itu bisa dipanen. Dalam proses pertumbuhan tanaman hingga berbuah ini harus dipelihara yang baik, terutama harus diusahakan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit yang sering kali menurunkan produksi.

1. PERSEMAIAN
Membuat persemaian merupakan langkah awal bertanam padi. Pembuatan persemaian memerlukan suatu persiapan yang sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian ini akan menentukan pertumbuhan padi di sawah, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi yang sehat dan subur dapat tercapai.
a. Penggunaan benih
– Benih unggul
– Bersertifikat
– Kebutuhan benih 25 -30 kg / ha
b. Persiapan lahan untuk persemaian
– Tanah harus subur
– Cahaya matahari
– Pengairan
– Pengawasan
c.

Pengolahan tanah calon persemaian
– Persemaian kering
– Persemaian basah
– Persemaian sistem dapog

Persemaian Kering
Persemaian kering biasanya dilakukan pada tanah-tanah remah, banyak terdapat didaerah sawah tadah hujan. Persemaian tanah kering harus dilakukan dengan baik yaitu :
– Tanah dibersihkan dari rumput clan sisa -sisa jerami yang masih tertinggal, agar tidak mengganggu pertumbuhan bibit.
– Tanah dibajak atau dicangkul lebih dalam dari pada apa yang dilakukan pada persemaian basah, agar akar bibit bisa dapat memasuki tanah lebih dalam, sehingga dapat menyerap hara lebih banyak.
– Selanjutnya tanah digaru

Areal persemaian yang tanahnya sempit dapat dikerjakan dengan cangkul, yang pada dasarnya pengolahan tanah ini bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, agar tanah menjadi gembur.

Ukuran bedengan persemaian :
– Panjang bedengan : 500 -600 cm atau menurut kebutuhan, akan tetapi perlu diupayakan agar bedengan tersebut tidak terlalu panjag
– Lebar bedengan : 100 -150 cm
– Tinggi bedengan : 20 -30 cm

Diantara kedua bedengan yang berdekatan selokan, dengan ukuran lebar 30-40 cm. Pembuatan selokan ini dimaksud untuk mempermudah :
– Penaburan benih dan pencabutan bibit
– Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi :
¬ Penyiangan
¬ Pengairan
¬ Pemupukan
¬ Pemberantasan hama dan penyakit

Persemaian diupayakan lebih dari 1/25 luas sawah yang akan ditanami, penggunaan benih pada persemaian kering lebih banyak dari persemaian basah.

Persemaian Basah
Perbedaan antara persemaian kering dan basah terletak pada penggunaan air. Persemaian basah, sejak awal pengolahan tanah telah membutuhkan genangan air. Fungsi genangan air:
– Air akan melunakan tanah
– Air dapat mematikan tanaman pengganggu ( rumput )
– Air dapat dipergunakan untuk memberantas serangga pernsak bibit
Tanah yang telah cukup memperoleh genangan air akan menjadi lunak, tanah yang sudah lunak ini diolah dengan bajak dan garu masing-masing 2 kali. Namun sebelum pengolahan tanah harus dilakukan perbaikan pematang terlebih dahulu, kemudian petak sawah dibagi menurut keperluan. Luas persemaian yang digunakan 1/20 dari areal pertanaman yang akan ditanami.

Sistem Dapog
Di Filipina telah dikenal cara penyemaian dengan sistem dapog, sistem tersebut di Kabupaten Bantul telah dipraktekan di Desa Pendowoharjo, Sewon.
Cara penyemaian dengan sistem dapog :
– Persiapan persemaian seperti pada persemaian basah
– Petak yang akan ditebari benih ditutup dengan daun pisang
– Kemudian benih ditebarkan diatas daun pisang, sehingga pertumbuhan benih dapat menyerap makanan dari putik lembaga
– Setiap hari daun pisang ditekan sedikit demi sedikit kebawah
– Air dimasukan sedikit demi sedikit hingga cukup sampai hari ke 4
– Pada umur 10 hari daun pisang digulung dan dipindahkan kepersemaian yang baru atau tempat penanaman disawah
d. Penaburan benih
Perlakuan sebagai upaya persiapan
Benih terlebih dahulu direndam dalam air dengan maksud :
– Seleksi terhadap benih yang kurang baik, terapung, melayang harus dibuang
– Agar terjadi proses tisiologis
Proses tisiologis berarti terjadinya perubahan didalam benih yang akhimya benih cepat berkecambah. Terserap atau masuknya air kedalam benih akan mempercepat proses tisiologis

Lama perendaman benih
Benih direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diperam ( sebelumnya ditiriskan atau dietus )

Lamanya pemeraman
Benih diperam selama 48 jam, agar didalam pemeraman tersebut benih berkecambah.

Pelaksanaan menebar benih
Hal- hal yang hams diperhatikan dalam menebar benih adalah :
– Benih telah berkecambah dengan panjang kurang lebih 1 mm
– Benih tersebar rata
– Kerapatan benih harus sama
e. Pemeliharaan persemaian
1) Pengairan

Pada pesemaian secara kering
Pengairan pada pesemaian kering dilakukan dengan cara mengalirkan air keselokan yang berada diantara bedengan, agar terjadi perembesan sehingga pertumbuhan tanaman dapat berlangsung, meskipun dalam hal ini sering kali ditumbuhi oleh tumbuhan pengganggu atau rumput. Air berperan menghambat atau bahkan menghentikan pertumbuhan tanaman pengganggu / rumput. Perlu diketahui bahwa banyaknya air dan kedalamanya merupakan faktor yang memperngaruhi perkembangan semai, terutama pada pesemaian yang dilakukan secara basah.

Pada pesemaian basah
Pengairan pada pesemaian basah dilakukan dengan cara sebagai berikut :
– Bedengan digenangi air selama 24 jam
– Setelah genagan itu berlangsung selama 24 jam, kemudian air dikurang hingga keadakan macak-macak ( nyemek-nyemek ), kemudian benih mulai bisa disebar

Pengurangan air pada pesemaian hingga keadaan air menjadi macak-macak ini, dimaksudkan agar:
0 Benih yang disebar dapat merata daD mudah melekat ditanah sehingga akar mudah masuk kedalam tanah.
– Benih tidak busuk akibat genagan air
– Memudahkan benih bernafas / mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga proses perkecambahan lebih cepat
– Benih mendapat sinar matahari secara langsung

Agar benih dalam bedengan tidak hanyut, maka air harus diatur sesuai dengan keadaan, misalnya : bila akan terjadi hujan maka bedengan perlu digenangi air, agar benih tidak hanyut. Penggenangan air dilakukan lagi pada saat menjelang pemindahan bibit dari pesemaian kelahan pertanaman, untuk memudahkan pencabutan.
2) Pemupukan dipersemaian
Biasanya unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar ialah unsur hara makro. Sedangkan pupuk buatan / anorganik seperti Urea, TSP dll diberikan menjelang penyebaran benih dipesemaian, bila perlu diberi zat pengatur tumbuh. Pemberian zat pengatur tumbuh pada benih dilakukan menjelang benih disebar.

2.

PERSIAPAN DAN PENGOLAHAN TANAH SAWAH

Pengolahan tanah bertujuan mengubah keadaan tanah pertanian dengan alat tertentu hingga memperoleh susunan tanah ( struktur tanah ) yang dikehendaki oleh tanaman. Pengolahan tanah sawah terdiri dari beberapa tahap :
a. Pembersihan
b. Pencangkulan
c. Pembajakan
d. Penggaruan
a. Pembersihan
– Selokan-selokan perlu dibersihkan
– Jerami yang ada perlu dibabat untuk pembuatan kompos
b. Pencangkulan
Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak
c. Membajak
– Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah
– Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput ( jerami ) sehingga akhirnya membusuk.
– Proses pembusukan dengan bantuan mikro organisme yang ada dalam tanah
d. Menggaru
– Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah
– Pada saat menggaru sebaiknya sawah dalam keaadan basah
– Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar
– Penggaruan yang dilakukan berulang kali akan memberikan keuntungan
– Permukaan tanah menjadi rata
– Air yang merembes kebawah menjadi berkurang -Sisa tanaman atau rumput akan terbenam
– Penanaman menjadi mudah
– Meratakan pembagian pupuk dan pupuk terbenam
3.

PENANAMAN

Dalam penanaman bibit padi, harus diperhatikan sebelumnya adalah :
a. Persiapan lahan
b. Umur bibit
c. Tahap penanaman
a. Persiapan lahan
Tanah yang sudah diolah dengan cara yang baik, akhirnya siap untuk ditanami bibit padi.
b. Umur bibit
Bila umur bibit sudah cukup sesuai dengan jenis padi, bib it terse but segera dapat dipindahkan dengan cara mencabut bibit
c. Tahap penanaman
Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu
1. Memindahkan bibit
2. Menanam
1) Memindahkan bibit
Bibit dipesemaian yang telah berumum 17-25 hari ( tergantung jenis padinya, genjah / dalam ) dapat segera dipindahkan kelahan yang telah disiapkan.

Syarat -syarat bibit yang siap dipindahkan ke sawah :
– Bibit telah berumur 17 -25 hari
– Bibit berdaun 5 -7 helai
– Batang bagian bawah besar, dan kuat
– Pertumbuhan bibit seragam ( pada jenis padi yang sama)
– Bibit tidak terserang hama dan penyakit
Bibit yang berumur lebih dari 25 hari kurang baik, bahkan mungkin telah ada yang mempunyai anakan.
2)

Menanam
Dalam menanam bibit padi, hal- hal yang harus diperhatikan adalah :
a. Sistim larikan ( cara tanam )
b. Jarak tanam
c. Hubungan tanaman
d. Jumlah tanaman tiap lobang
e. Kedalam menanam bibit
f. Cara menanam
a) Sistim larikan ( cara tanam )
– Akan kelihatan rapi
– Memudahkan pemeliharaan terutama dalam penyiangan
– Pemupukan, pengendalian hama dan penyakit akan lebih baik dan cepat
– Dan perlakuan-perlakuan lainnya
– Kebutuhan bibit / pemakaian benih bisa diketahui dengan mudah
b) Jarak tanam
Faktor yang ikut menentukan jarak tanam pada tanaman padi, tergantung pada :
– .Jenis tanaman
– Kesuburan tanah
– Ketinggian tempat / musim

– Jenis tanaman
Jenis padi tertentu dapat menghasilkan banyak anakan. Jumlah anakan yang banyak memerlukan jarak tanam yang lebih besar, sebaliknya jenis padi yang memiliki jumlah anakan sedikit memerlukan jarak tanam yang lebih sempit.
– Kesuburan tanah
Penyerapan hara oleh akar tanaman padi akan mempengaruhi penentuan jarak tanam, sebab perkembangan akar atau tanaman itu sendiri pada tanah yang subur lebih baik daTi pada perkembangan akar / tanaman pada tanah yang kurang subur. Oleh karena itu jarak tanam yang dibutuhkan pada tanah yang suburpun akan lebih lebar daTi pada jarak tanam padah tanah yang jurang subur.
– Ketinggian tempat.
Daerah yang mempunyai ketinggian tertentu seperti daerah pegunungan akan memerlikan jarakn tanam yang lebih rapat dari pada jarak tanam didataran rendah, hal ini berhubungan erat dengan penyediaan air. Tanaman padi varietas unggul memerlukan jarak tanam 20 x 20 cm pada musim kemarau, dan 25 x 25 cm pada musim hujan.
c) Hubungan tanaman
Hubungan tanaman berkaitan dengan jarak tanam. Hubungan tanaman yang sering diterapkan ialah :
– Hubungan tanaman bujur sangkar ( segi empat )
– Hubungan tanaman empat persegi panjang.
– Hubungan tanaman 2 baris.
d) Jumlah tanaman ( bibit ) tiap lobang.
Bibit tanaman yang baik sangat menentukan penggunaannya pada setiap lubang. Pemakian bibit tiap lubang antara 2 -3 batang
e) Kedalaman penanaman bibit
Bibit yang ditanam terlalu dalam / dangkal menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik, kedalam tanaman yang baik 3 -4 cm.
f) Cara menanam
Penanaman bibit padi diawali dengan menggaris tanah / menggunakan tali pengukur untuk menentukan jarak tanam. Setelah pengukuran jarak tanam selesai dilakukan penanaman padi secara serentak.
4.

PEMELIHARAAN

Meliputi :
a. Penyulaman dan penyiangan
b. Pengairan
c. Pemupukan
a. Penyulaman dan penyiangan.
Yang harns diperhatikan dalam penyulaman :
– Bibit yang digunakan harus jenis yang sama
– Bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu
– Penyulaman tidak boleh melampoi 10 hari setelah tanam.
– Selain tanaman pokok ( tanaman pengganggu ) supaya dihilangkan.
b. Pengairan
Pengairan disawah dapat dibedakan :
– Pengairan secara terus menerus
– Pengairan secara piriodik
c.Pemupukan
Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan makanan yang berperan sangat penting bagi tanaman baik dalam proses pertumbuhan / produksi, pupuk yang sering digunakan oleh petani berupa :
– Pupuk alam ( organik )
– Pupuk buatan ( an organik )

Dosis pupuk yang digunakan :
– Pupuk Urea 250 -300 kg / ha
– Pupuk SP 36 75 -100 kg / ha
– Pupuk KCI 50 -100 kg / ha
– Atau disesuaikan dengan analisa tanah

Sumber :
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul
Jalan KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713
Telp. 0274-367541

Cara Menanam Tomat


Tomato ialah satu jenis sayur-sayuran buah yang kaya dengan vitamin A & C

Jenis
Terdapat banyak jenis tomato dari luar dan dalam negeri.

Menyemai
Biji benih disemai selama 3-4 minggu sebelum diubah. Tanah biasa atau gambut boleh digunakan untuk menyemai biji benih. Keadaan tanah hendaklah halus dan ditambah baja NPK ( 12: 12 : 17: 2). Gaulkan benij dengan racun kulat (Thiram) sebelum disemai. Jarak menyemai 5 cm x 0.5 cm dalam. Sembur racun kulat dan serangga tiap-tiap minggu. kadar benih 300 g/ ha

Mengubah
Anak semaian sedia diubah bila menpunyai 4-5 helai daun atau pada minggu keempat. Siram dengan air sebelum dipindah ke ladang. Siram dan beri lindungan selepas mengubah.

Keadaan Tanah
Tomato perlukan tanah yang kaya dengan bahan organan dan pengaliran air yang baik. Tanah yang masam hendaklah ditabur kapur magnesium sebanyak 3- 5 tan /ha.

Membuat batas
Batas-batas dibuat setinggi 20-30 cm, lebar 1.2m panjang sesuka hati.

Menaman
Anak semaian ditanam dengan jarak 60 cm antara pokok dan 60 cm antara barisan.

Penyokong pokok
Satu cara menyokong pokok tomato adalah seperti ditunjukkan pada gambarajah di sebelah.

Membaja
Untuk tanah gambut kadar membaja dengan NPK (12 : 12: 17 : 2) adalah seperti berikut :

Peringkat pertumbuhan Kadar sepokok
Minggu kedua 31g
Minggu keempat 31g
Minggu Kelapan 31g

Baja ditabur di sekeliling pokok.

Memangkas
Dua batang utama dibiar tumbuh dan berbuah. Memangkas dimulakan selepas pengeluaran bunga

Sungkupan
Ia mengurangkan kehilangan air dari tanah, mengawal kenaikan suhu tanah dan kawal pertumbuhan rumpai.
Bahan sungupan adalah seperti lalang kering, pelepah kelapa sawit dan lain-lain.

Mengawal Rumpai
Dibuat dari semasa ke samasa untuk mengurangkan persaingan unsur makanan dan cahaya matahari.

MEMUNGUT HASIL

Buah boleh dipetik dalam masa 12-15 minggu dari menyemai. Petik buak yang matang, sebelum buahnya menjadi masak atau kuning.
Hasil boleh dipungut tiap-tial tiga hari sekali. Anggaran hasil 16 000 kg/ ha.

Ebook Free


3 Risalah Sholat

10 Hari Akhir

adab berpakaian

Akhlak Mulia

Al-Ushul

Bekal Pernikahan

Bekisar Merah

Bidadari untuk Ikhwan

Dalam Mihrab Cinta

Detik detik hidupku hasan al banna

Poligami Dihujat

Evolusi

Hukum Cadar

Inti Ajaran Islam

Jesus

Jesus & The Bible

JIL Sebuah Doktrin Yang Telah Usang

Jilbab

Kapas Kapas di Langit

Kunci Rezeki

Mahkota Cinta

Mengenal Sejarah Nabi

Panah Syetan

Pengagungan Terhadap Sunnah

Pudarnya Pesona Cleopatra

Sahabat

Sehari Dikediaman Rosul

  • Halaman

  • June 2017
    M T W T F S S
    « Apr    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • RSS 20 Newest Free

  • RSS Brothersoft

  • RSS New Software

  • AntiVirus

  • Status Anda

    IP
  • Pengunjung

    free counters
  • Blog Stats

    • 338,386 hits
  • Add to Google Reader or Homepage Subscribe in NewsGator Online Add to netvibes Subscribe in Bloglines Add to fwicki Add to Webwag Powered by FeedBurner

  • Friends Link

  • RSS Kompas

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS Lowongan Kerja Terbaru 2013

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • Info Tentang AQ

  • Meta

  • %d bloggers like this: